Oleh: Asy Syaikh Zaid bin Muhammad Al Madkhali Soal: Apa nasehatmu untuk ikhwah salafy, namun dia ingin menikah dengan akhwat bukan salafiyah dari kalangan muslim awam?
Jawab: Jika dia mendapatkan akhwat salafiyah, hendaknya dia melamar akhwat tersebut. Semoga itu lebih baik dan lebih bermanfaat baginya. Ini karena aqidah dan manhaj yang benar serta berpegang teguhnya akhwat tersebut terhadap dien ini.
Namun apabila dia tidak menemukan kecuali wanita dari kalangan muslim awam, dari kalangan ahli tauhid yang menegakkan rukun iman, islam dan ihsan, maka hendaknya dia juga melamar dan menikahi wanita tersebut.
Ikhwan tersebut hendaknya mencoba meningkatkan ilmu (agama) si akhwat jika dia mampu, dan dia juga memberikan majelis taklim untuk si akhwat untuk mempelajari batasan-batasan syariat sehingga dia bisa menjadi seorang istri, penuntut ilmu, yang memiliki pemahaman agama, menjadi sosok yang memelihara rumah tangga dan amanah sehingga kebaikanlah yang diperoleh dari dirinya, dan kejelekan akan hilang.
(Diterjemahkan untuk blog http://ulamasunnah.wordpress.com dari http://z-salafi.com/v2/zsalafi.php?s_menu=16 http://z-salafi.com/v2/zsalafi.php?s_menu=23&idFatwa=1961)
===============
Al-Imam Muslim rahimahullâh berkata:
Muhammad bin ‘Abdillah bin Numair Al-Hamdani mengabarkan kepadaku, dia berkata: ‘Abdullah bin Yazid mengabarkan kepada kami, dia berkata: Haiwah mengabarkan kepada kami, dia berkata: Syarahbil bin Syarik mengabarkan kepadaku bahwa dia mendengar Abu ‘Abdirrahman Al-Hubli menyampaikan hadits dari ‘Abdullah bin Amr bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ
“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah.”
Dalam hadits ini terdapat keutamaan yang jelas bagi seorang wanita yang shalihah, dengan Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam menjadikannya sebagai sebaik-baiknya perhiasan di dunia. Dan Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam mengategorikan wanita shalihah sebagai kebahagiaan.
Ibnu Hibban meriwayatkan sebagaimana dalam Al-Ihsan (9/340) dari Sa’d bin Abu Waqqash radhiyallâhu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ: الْمَرْأَةُ الصَّالِحَاةُ، وَالْمَسْكَنُ الوَاسِعُ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيءُ. وَأَرْبَعٌ مِنَ الشَّقَاءِ: الْمَرْأَةُ السُّوءُ، وَالْجَارُ السُّوءُ، وَالْمَرْكَبُ السُّوءُ، وَالْمَسْكَنُ الضَّيِّقُ
“Empat perkara yang merupakan kebahagian: seorang wanita (istri) yang shalihah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang baik, dan tunggangan (kendaraan) yang nyaman. Dan empat perkara yang merupakan kesengsaraan: seorang wanita yang jelek (agamanya), tetangga yang jelek, tunggangan yang jelek, dan tempat tinggal yang sempit.” (Hadits ini diriwayatkan pula oleh Al-Hakim)
Karena itu, seorang wanita hendaklah punya keinginan besar untuk menjadi wanita yang shalihah dan mempelajari sifat-sifatnya, sehingga dia menjadi bagian dari mereka.
Ungkapan ringkas tentang wanita shalihah adalah wanita yang berpegang teguh dengan kitab Rabbnya dan Sunnah Nabi-Nya shallallâhu ‘alaihi wa sallam di atas pemahaman Salafush Shalih.
Sebagaimana firman Rabb kita Yang Maha Agung di atas keagungan-Nya:
وَالَّذِينَ يُمَسِّكُونَ بِالْكِتَابِ وَأَقَامُوا الصَّلَوةَ إِنَّا لاَ نُضِيعُ أَجْرَ الْمُصْلِحِينَ
“Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan Al-Kitab serta mendirikan shalat, (akan diberi pahala) karena sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengadakan perbaikan.” (Al-A’raaf: 170)
Bismillaah…
”Orang-orang yang berilmu agama adalah orang yang ku cari di setiap tempat, mereka adalah tujuan yang ku cari dalam pergaulanku, dan aku menemukan keshalihan hatiku dalam bergaul dengan mereka” (حلية الأولياء وطبقات الأصفياء , IV/85 )
Bagiku dan bagi ahlus sunnah lainnya maka tugas kami hanyalah menyampaikan saja sementara apakah ia akan tersentuh atau tidak dengan apa-apa yang telah kami sampaikan kepadanya adalah urusan Allah karena hidayah adalah pemberian dari Allah semata. Tidak ada yang namanya target dakwah terhadap orang-orang tertentu untuk direkrut sebagai kader karena dalam manhaj salaf kader adalah urusan Allah karena Allahlah yang memiliki hati-hati dan jiwa-jiwa dari para ‘calon kader’ tersebut. Tak ada kecewa dalam diri-diri kami apabila orang yang kami dakwahi tidak menerima seruan kami atau bahkan menolaknya dan menentang kami, yang ada adalah do’a dari kami semoga Allah memberikan hidayah kepada mereka melalui lisan-lisan, perbuatan-perbuatan atau melalui hal-hal lainnya dari orang-orang yang lebih ikhlas dan lebih ‘alim dari kami, karena mungkin saja hati kami yang kurang ikhlas dalam menyeru mereka atau ilmu kami yang tidak cukup dalam hal itu sehingga hatinya pula tidak bisa menerima seruan kami. Hanya kepada Allah sajalah kami mohon pertolongan.
SMS 1 :
“Bismillah, Wahai Ayah – Semoga Allah memudahkan urusanmu- Tahukah engkau mengapa Allah menciptakan 2 telinga dan 1 lidah? Abu Darda’ Radhiyallahu ‘anhu berkata : “Bersikap Adil-lah terhadap telinga dan lidah. Engkau di beri 2 telinga dan 1 lidah agar engkau lebih banyak mendengar dari pada berbicara”. (Mukhtashar Minhajil Qosidin 215)
SMS 2 :
“Bismillah, Wahai Ayah – Semoga Allah menjagamu – Maukah aku beritahu 3 kunci yang dengannya engkau akan bahagia? 3 kunci itu adalah Apalabila engkau diberi maka bersyukurlah, Apabila engkau diuji maka bersabarlah dan Apabila engkau melakukan dosa maka istighfar-lah” (Imam Muhammad bin Sulaiman at Tamimi dalam Qowaidul Arba)
SMS 3 :
Bismillah, Wahai Ayah – Semoga Allah senantiasa melimpahkan Rahmat-Nya padamu – engkau adalah pemimpin dalam keluarga yang harus menetapkan suatu keputusan setiap waktunya, maka ku sampaikan pesan dari Amr bin al Ash Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya “Orang yang berakal bukanlah orang yang sekedar mengetahui yang baik dari yang buruk, akan tetapi orang yang berakal adalah orang yang mengetahui mana yang baik dari dua keburukan” (Siyar al A’alam an Nurbala III/74)
SMS 4 :
“Bismillah, Wahai Ayah – Semoga Allah senantiasa menghaturkan kasih sayangNya padamu – Hapuslah kesedihan atas ujian yang diberikan olehNya, beristighfarlah, karena Barang siapa yang banyak memperbanyak istighfar, niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya dan rizq dari arah yang tidak disangka-sangka” (HR. Ahmad, dr Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu)
SMS 5 :
“Bismillah, Wahai Ayah – Semoga Allah melapangkan rahmatNya untukmu – ketika engkau melangkahkan kakimu untuk mencari sebagian rizq yang Allah tetapkan padamu, satu yang ku harapkan, Janganlah engkau berikan kepada kami rizq dari hasil riba dan bagiku menahan lapar itu lebih baik dari pada engkau berikan kepada kami rizq dari hasil riba karena (Dosa) riba itu memiliki tujuh puluh dua pintu, yang paling ringan ialah semisal dengan (dosa) seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri …” (HR. Ath Thabrani)
http://akhiyusuf.wordpress.com
As duscussed, Ini route yang harus kita verifikasi segera.
Total ada 42 cluster (Zone A: 12, Zone B : 15, Zone C : 15)
Hizbiyyah atau fanatisme golongan merupakan salah satu dari akhlak kaum jahiliyah. Akhlak ini sudah semestinya dienyahkan dari diri setiap muslim. Fenomena fanatisme golongan telah mencabik-cabik persatuan di antara sesama muslim.
Diantara fenomena fanatisme golongan adalah mereka menganggap bahwasanya madzhabnya, ormasnya, partainya, ustadznya dan seterusnya adalah yang benar sedangkan yang selainnya salah. Diantara mereka ada yang tidak mau menikah kecuali dengan yang sekelompok pengajiannya, diantara mereka tidak mau berma’mum shalat kecuali dengan yang semadzhab, diantara mereka tidak mau menerima kebenaran yang bukan datang dari kelompoknya dan seterusnya. Diantara mereka ketika melihat seorang muslim ibadahnya bagus, komitmen terhadap pengamalan agamanya bagus, akan tetapi hanya karena tidak seormas dan separtai, maka dianggap bukan ikhwah (saudara). Sementara orang yang banyak kekurangan agama dan tidak komitmen terhadap pengamalan agama, tetapi hanya karena satu ormas dan separtai, maka mendapatkan loyalitas sepenuhnya. Hal seperti ini adalah bukti bahwa dalam dirinya terdapat penyakit hizbiyyah, penyakit fanatisme golongan. Sungguh telah sampai kepada Penulis, bahwa seorang muslim dan muslimah yang telah merencanakan pernikahan, akan tetapi hanya karena partai yang dicoblos dalam pemilu ternyata berbeda, akhirnya gagal melaksanakan pernikahan, bukankah yang seperti ini jelas-jelas kefanatikan dan kepicikan berfikir?! Apa yang mereka banggakan?
Wahai saudaraku yang semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepadamu… Apakah di akhirat, kita akan ditanya, “Dari ormas dan partai mana engkau?” Jika dari ormas dan partai X maka kamu akan selamat, dan jika dari selainnya engkau akan celaka? Tidak saudaraku! Kita hanya ditanya mana iman dan amalmu! Dalam banyak ayat di dalam Al-Quran disebutkan, “ …barangsiapa yang beriman dan beramal shaleh” “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk” (Al-Bayyinah: 6) “Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya” (At-Tiin: 5-6) Bukankah Allah hanya melihat iman dan amal shaleh kita? Tidak melihat dari ormas mana dan partai mana, jika dari ormas dan partai X maka akan selamat dan jika dari selain X akan celaka!
Dalam surat Al-Qori’ah Allah berfirman menceritakan nasib para hamba di hari kiamat.. “Dan adapun orang-orang yang berat timbangannya (kebaikannya), maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikannya), maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah” (Al-Qari’ah: 6-9) Bukankah yang ditimbang oleh Allah adalah kebaikan kita, yakni iman dan amal shaleh, bukan klasifikasi berdasarkan ormas dan partai?!! Walaupun seseorang punya posisi penting di sebuah ormas atau partai, akan tetapi jika hari-harinya diisi bukan dengan iman dan amal shaleh, bahkan diisi dengan menyiakan-nyiakan waktu dan dosa, maka dia sebagai manusia yang hina dalam pandangan Allah.
Demikian juga sebaliknya, walaupun seseorang sebagai muslim biasa, tidak aktif dalam ormas atau partai tertentu, akan tetapi hari-harinya diisi dengan iman dan amal shaleh, maka dia sebagai manusia yang mulia dalam pandangan Allah. Allah berfirman: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu” (Al-Hujuraat: 13) Cinta dan benci sesuai dengan kadar pengamalan Islamnya Wala wal baro, loyalitas dan berlepas diri diantara sesama muslim seharusnya didasarkan pada kadar pengamalan Islamnya , bukan berdasar kesamaan ormas dan partainya. Seorang muslim yang taat lebih kita cintai daripada seorang muslim tetapi banyak berbuat maksiat, orang muslim yang banyak berbuat maksiat lebih kita cintai daripada orang kafir, dan seterusnya. Cinta dan benci juga harus karena Allah. Mudah-mudahan ini dapat menjadi bahan tafakur dan perenungan, sehingga keIslaman kita menjadi lebih baik dengan mengenyahkan salah satu karakter kaum jahiliyah, dimana mereka fanatik kepada golongannya, apakah itu ormas atau partai tertentu.
Mudah-mudahan kita dapat menjadi manusia yang adil, yang menempatkan cinta dan benci sesuai dengan kadar yang dituntunkan oleh syariat. Dan juga menerapkan cinta dan benci hanya karena Allah. Dipublish kembali oleh Ummu Yafta, Written by Puji Hartono dari Digital Islamic Library.
http://hudaibiyah.blogspot.com/2011/06/hizbiyyah-fenomena-fanatisme-golongan.html
Seorang laki-laki datang menemui Wahb bin Munabbih. Laki-laki itu berkata kepadanya, “Si Fulan mencelamu.” Wahb bin Munabbih berkata, “Apakah syaithan tidak menemukan tukang pos selain kamu?” (Mukhtashaar Minhaaj -l Qaashidin, Al-Maqdisy, 3/45)
Wahai saudaraku ahlussunnah, janganlah engkau menjadi tukang-tukang pos syaithan, yang berusaha mengirimkan titipan-titipan syaithan untuk menghembuskan fitnah permusuhan di antara saudaramu ahlussunnah, hanya gara-gara perbedaan pendapat di dalam satu atau dua masalah fiqhiyyah far’iyyah ijtihaadiyyah. Bukankah engkau mengetahui di kalangan ulama ahlussunnah banyak terdapat perbedaan pendapat, bukan hanya satu atau dua masalah saja, bahkan hampir di semua bab fiqh. Atau engkau belum pernah belajar fiqh para ulama sehingga dengan mudahnya memusuhi saudaramu sendiri hanya disebabkan dia tidak sependapat denganmu dalam satu masalah khilaafiyyah? لا تكونوا عونا للشيطان على أخيكم “Janganlah kalian menjadi penolong-penolong syaithan dalam memusuhi saudara kalian.” (HR. Ahmad, no.4168, Syaikh Al-Arnauth berkata, “Hadits ini hasan dengan syawahidnya)
Kali ini kita bahas ttg proses call setup atau proses ketika MS menghubungi MS lain (jalur ketika kita menelpon seseorang sampai dapat terkoneksi sehingga kita bisa melakukan sebuah percakapan). Baiklah kita mulai,..
Pertama” ketika kita melakukan panggilan dengan menekan sebuah tombol angka”di hp, maka terjadilah yang namanya RR (radio resource) connection establishment, yaitu informasi yang akan kita kirim berupa nomor” itu dikirimkan ke MSC, nah agar dapat dikirim ke MSC maka dibutuhkan RR connection ke MSC. RR connection establishment ini ditrigger/dipacu dengan mengirimkan channel request message (memakai RACH). Pesan ini lalu request ke BSS agar menyediakan alokasi utk RR utk RR connection setup. Handset/HP kita lalu menunggu assignments di AGCH (Access Grand Channel) dan mendengarkan AGCH utk membalas. BSS mengalokasikan TCH ke handset. Alokasi TCH memberikan frekuensi dan sebuah time slot disana. Setelah handset/mobile menerima pesan ini, mobile hanya menggunakan resource yg spesifik utk berkomunikasi dengan mobile network. BSS mentransmisikan radio resource assignment ke mobile via AGCH, pesan tsb mengandung time dan frequency corrections. Time correction memungkinkan mobile mentransmisikan tepat pada waktunya agar dapat mencapai BSS tepat hanya pada slot yg sdh disediakan. Pengaturan timing dan frekuensi berdasar advice dari BSS merupakan langkah yg diperlukan agar transmisi dari mobile dapat sampai ke base station pada waktu yg tepat dan frekuensi yg benar. Mobile melakukan tunes (mengatur/menset) kembali dari AGCH dan tunes ke radio channel yg dituju. Ini adalah pesan pertama yg dikirim setelah tuning ke channel. Mobile menginisiasikan LAPm connection dengan BSC dengan mngirimkan pesan sebuah Set Asynchronous Balanced Mode (SABM). BSS membalasnya dgn Unnumberred Acknowledge (UA) utk melengkapi LAPm setup handshake (tmn”prnah dger three way handshake ngga?smacam itulah n klo ngga ya hrs paham itu dulu). BSS menerima CM service request message dari mobile dan forms sbuah layer message ke-3(network donk yah). BSS kemudian ‘piggy back’ ke SCCP connection request message.
Read the rest of this entry »
Tamasya ke Taman Surga. Apakah yang dimaksud dengan taman surga itu?
Dari Anas bin Malik radhiyallohu ‘anhu bahwa Rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian melewati taman-taman surga maka singgahlah dengan senang.” Para sahabat bertanya, “Apakah taman-taman surga itu?” Beliau menjawab, “Halaqoh-halaqoh dzikir.” (HR. at-Tirmidzi dan lain-lain)
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ‘Tidaklah duduk suatu kaum yang berzhikir kepada Allah melainkan para malaikat mengelilingi mereka serta ketenangan turun atas mereka dan Allah menyebut-nyebut mereka di tengah-tengah malaikat yang ada di sisi-Nya.” (HR. Muslim)
Dari penjelasan dan perjalananku yang panjang dalam menapaki Manhaj Salaf yang haq ini, sampai ‘nyangkut’ disana-sini, walhamdulillah Allah memberikan hidayah-Nya kepada hingga aku bisa mengenal dakwah salaf… Masya Allah inilah nikmat yang paling besar dan paling membahagiakan dalam hidupku. Tak bisa dibayangkan bagaimana jika Allah tidak memberikan hidayah-Nya kepadaku… Baru kusadari, bahwa: Yang PALING MAHAL adalah HIDAYAH Yang PALING BERAT adalah IKHLASH dan ISTIQOMAH
Aku mendapatkan 2 nikmat besar. Dan aku tidak tahu mana yang lebih besar dari dua nikmat ini.
Pertama, Aku ditunjukkan kepada Islam dan tidak ditunjukkan kepada Yahudi dan Nashrani.
Kedua, Aku tidak dijadikan seorang khawarij tapi aku dijadikan seorang sunni.
Oleh sebab itu, Imam ibnu Qoyyim mengatakan, “Nikmat yang abadi adalah nikmat Islam dan nikmat sunnah”
Oleh : Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu -a’zhamallahu lahul ajra wats tsawab-
Agama Adalah Nasehat
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Agama adalah nasehat, kami (para sahabat) bertanya : Untuk siapa wahai Rasulullah ? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, dan untuk para pemimpin kaum muslimin dan orang-orang muslim”. (HR.Muslim).
Bukanlah dikatakan seseorang berjalan di atas kebenaran ialah dengan menganggap benar semua apa yang menjadi pendapat, perkataan maunpun perbuatannya. Akan tetapi , dikatakan seseorang itu berada di atas kebenaran jika ia mau menerima krtikan dan nasehat dari orang lain. Yang selalu bertobat dari kesalahan dan rujuk kepada kebenaran setelah sampainya ilmu kepada dia.
Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata: “Semoga Allah merahmati seorang hamba yang menunjukkan kepadaku kesalahanku dan menuntunku (untuk melihat) kepada cacat dan celaku. Sesungguhnya tidak berat bagiku -dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala- untuk kembali dari kesalahan (menuju kepada kebenaran) yang tampak bagiku kemudian…” [Silsilah al-Ahadits adh-Dha'ifah, (al-Ma'arif, 1/6)].
Alhamdulillah kami masih mendapati saudara-saudara kami (para ustadz dan penuntut ilmu) yang masih berdakwah mengajak kepada Allah, memperhatikan masalah aqidah (tauhid) dan ilmu lainnya.
Menjadikan aqidah sebagai dakwah pertama mereka.
Pertengahan dalam dakwah, tidak berlebihan dalam suatu perkara dan meremehkan perkara lainnya.
Mereka meneladani Rasulullah dan Shahabatnya dalam ilmu, amal, dan dakwah.
Mereka menghormati pemimpin muslim. Mengajak manusia untuk taat kepada mereka.
Mengajak manusia kembali kepada al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman sahabat Nabi Muhammad. Mencintai kaum muslimin dan menasehati mereka agar kembali kepada ke jalan yang benar
Mereka bukan termasuk golongan manusia yang memusuhi pemimpin muslim dan mencelanya.
Bukan termasuk golongan manusia menjauhkan manusia dari kebenaran dan membuat permusuhan, serta menebar kebencian.