Hari Hari mu adalah Umur mu..

العلماء هم ضالتي في كل بلدة وهم بغيتي ووجدت صلاح قلبي في مجالسة العلماء // Orang-orang yang berilmu agama adalah orang yang kucari di setiap tempat. Mereka adalah tujuan yang selalu kucari. Dan aku menemukan keshalihan hatiku di dalam bergaul dengan mereka. (حلية الأولياء وطبقات الأصفياء , IV/85 )

Di sebuah surat kabar yang pernah kubaca, disana diceritakan hasil wawancara dari seorang wartawan dengan seorang pengemis. Yang mana pengemis ini mengaku, bahwa profesi pengemis ini sudah dilakoni sejat tahun 1970an hingga sekarang. Dari profesi minta-minta tersebut dia sudah mampu membeli dua sepeda motor, beberapa buah rumah di kota Surabaya (Surabaya coy, tanah aja selangit harganya), dua buah rumah di Madura kampungnya , sebuah rumah di Semarang dan sebuah sebuah mobil gagah (Honda CRV keluaran 2004). Pria beranak dua itu mengaku sadar bahwa profesinya akan selalu dicibir orang. Namun, pria asal Bangkalan Madura tersebut tidak peduli. ”Yang penting halal,” ujarnya mantap.

Setelah puluhan tahun mengemis, dia sekarang memang bisa lebih menikmati hidup. Sejak 2000, dia tak perlu lagi meminta-minta di jalanan atau perumahan. Cukup mengelola 54 anak buahnya, uang mengalir teratur ke kantong.

Sekarang, setiap hari, dia mengaku mendapatkan pemasukan bersih Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. Berarti, dalam sebulan, dia punya pendapatan Rp 6 juta hingga Rp 9 juta.

Ya, dia telah menjadi seorang trainer, kerjaanya sekarang cuma mentraining bagaiman untuk menjadi pengemis yang “baik dan benar”. Dia telah membagi-bagikan ”ilmu” yang dia dapatkan untuk terus meningkatkan penghasilan. Mulai cara berdandan, cara berbicara, cara menghadapi aparat, dan sebagainya.

Lahawla walla kuwwata illa billah !

Ini merupakan akibat dari kurangnya ilmu sehingga yang haram dianggap halal. Kepada Allah lah kita adukan semua kebodohan ini dan kita selalu berdo’a di setiap pagi dengan do’a yang nabi ajarkan “Ya Allah, aku meminta kepada-Mu ILMU YANG BERMANFAAT, REZKI YANG HALAL dan AMALAN YANG DITERIMA”.

Padahal kita tahu, meminta-minta harta manusia hukumnya HARAM. Diharamkan oleh Allah sang pemilik langit dan bumi ini beserta isinya. Diancam oleh Allah bahwa pelakunya nanti pada hari kiamat akan datang menghadap Allah dalam keadaan wajahnya tidak memiliki daging sekeratpun. Na’udzubillah min dzalik.
Karena orang yang meminta-minta harta manusia pada hakikatnya ia meminta bara api.

Diriwayatkan dari Sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا زَالَ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ، حَتَّى يَأْتِيَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِيْ وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ.

“Seseorang senantiasa meminta-minta kepada orang lain sehingga ia akan datang pada hari Kiamat dalam keadaan tidak ada sekerat daging pun di wajahnya”.[1]

Diriwayatkan dari Hubsyi bin Junaadah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَأَلَ مِنْ غَيْرِ فَقْرٍ فَكَأَنَّمَا يَأْكُلُ الْجَمْرَ.

“Barang siapa meminta-minta kepada orang lain tanpa adanya kebutuhan, maka seolah-olah ia memakan bara api” [2].

Hadits Ketiga
Diriwayatkan dari Samurah bin Jundub Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

َالْـمَسْأَلَةُ كَدٌّ يَكُدُّ بِهَا الرَّجُلُ وَجْهَهُ، إِلَّا أَنْ يَسْأَلَ الرَّجُلُ سُلْطَانًا أَوْ فِيْ أَمْرٍ لَا بُدَّ مِنْهُ.

“Minta-minta itu merupakan cakaran, yang seseorang mencakar wajahnya dengannya, kecuali jika seseorang meminta kepada penguasa, atau atas suatu hal atau perkara yang sangat perlu” [3]

Maka , oleh sebab itu kita tidak dibenarkan untuk memberikan harta pada orang yang suka minta-minta (pengemis), karena minta-mita merupakan dosa dan orang yang memberi dikhawatirkan telah terjatuh pada sikap tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Seandainya orang-orang tidak mau lagi memberi kepada pengemis niscaya mereka akan gulung tikar sendiri. Percayalah pada ku !

Maka diantara hikmah, disyaritkannya kita mencari nafkah , bekerja , membanting tulang adalah untuk melindungi muka kita agar tidak menghinakan diri di hadapan manusia. Sebagaimana kisah seorang ulama terpandang yang bernama Abdullah bin Mubarok tatkala ia dikritik oleh seorang muridnya yang bernama Fudhail bin Iyadh , Fudhail berkata “Wahai syeikh, guru kami. Anda ajarkan kepada kami untuk zuhudlah terhadap dunia, sederhanalah dalam hidup. Akan tetapi kami lihat engkau datang dengan membawa harta perniagaan yang sangat banyak. Gimananna iniiii ????”.
Alangkah bagusnya jawaban Imam ibnu Mubarok, mudah-mudahan Allah muliakan kedudukannya dan ditinggikan derajtnya, beliau menjawab, “Ya akhi (wahai saudaraku). Tidaklah aku mencari harta ini melainkan agar bisa tegak tulang punggung ku ini, sehingga aku kuat untuk shalat malam (beribadah), dan juga aku mencari harta ini untuk melindungi mukaku agar jangan sampai menghinakan di hadapan manusia (alias mengemis)”.

Lalu bagaimana dengan pengamen ?
Jawaban ; pengamen hampir sama dengan pengemis, tukan minta-minta, bahkan lebih jelek.
Kalo dia minta duit , apa kita harus ngasih ?
Jawaban : jangan kasih, tapi .. dari pada ribut-ribut , yaa kasih aja

Lebih lanjut , silahkan dengar tanya jawab hukum pengemis/anak jalanan:
http://muslim.or.id/soal-jawab/soal-73-mengenai-anak-jalanan.html
_________
Footnotes
[1]. Muttafaqun ‘alaihi. HR al-Bukhâri (no. 1474) dan Muslim (no. 1040 (103)).
[2]. Shahîh. HR Ahmad (IV/165), Ibnu Khuzaimah (no. 2446), dan ath-Thabrâni dalam al-Mu’jamul-Kabîr (IV/15, no. 3506-3508). Lihat Shahîh al-Jâmi’ish-Shaghîr, no. 6281.
[3]. Shahîh. At-Tirmidzi (no. 681), Abu Dawud (no. 1639), an-Nasâ`i (V/100) dan dalam as-Sunanul-Kubra (no. 2392), Ahmad (V/10, 19), Ibnu Hibbân (no. 3377 –at-Ta’lîqâtul Hisân), ath-Thabrâni dalam al-Mu’jamul Kabîr (VII/182-183, no. 6766-6772), dan Abu Nu’aim dalam Hilyatul-Auliyâ` (VII/418, no. 11076).

Redi Ramli , di tulis di sebuah kosan pada musim Jogja bersemi Abu Vulkanik , 6 May 2011





Leave a Comment