Hari Hari mu adalah Umur mu..

العلماء هم ضالتي في كل بلدة وهم بغيتي ووجدت صلاح قلبي في مجالسة العلماء // Orang-orang yang berilmu agama adalah orang yang kucari di setiap tempat. Mereka adalah tujuan yang selalu kucari. Dan aku menemukan keshalihan hatiku di dalam bergaul dengan mereka. (حلية الأولياء وطبقات الأصفياء , IV/85 )

* AAI adalah singkatan dari Asistensi Agama Islam sebuah kegiatan yang wajib diikuti oleh mahasiswa baru yang beragama Islam di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Kegiatan ini berada di bawah koordinasi Pusat Komunikasi AAI (Puskom AAI) yang berlokasi di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada. Gambaran kegiatan ini kurang lebih pengisian materi agama Islam dimana mahasiswa baru dipandu oleh seorang pemandu yang merupakan mahasiswa lama yang telah diseleksi sebelumnya. Buku Panduan Asistensi Agama Islam di Universitas Gadjah Mada yang akan dibahas merupakan buku acuan untuk sang Pemandu dalam memberikan materi agama Islam pada mahasiswa baru (editor muslim.or.id).

Pengantar

Para pembaca yang budiman, dakwah adalah tugas yang mulia. Tidak ada ucapan yang lebih baik darinya. Akan tetapi dakwah akan menjadi bumerang bagi pemiliknya apabila tidak dilandasi dengan ilmu yang benar. Oleh sebab itu pada kesempatan ini kami ingin mengingatkan sebagian saudara kami yang telah terjerumus dalam sebuah kesalahan yang cukup fatal. Terlebih lagi kesalahan yang mereka lakukan menyangkut fondasi ajaran agama Islam yaitu kalimat tauhid. Dan lebih disayangkan lagi mereka berani menyebarluaskan kekeliruan tersebut di tengah-tengah kaum muslimin. Perlu para pembaca ketahui, bahwa sebelum mempublikasikan tulisan ini di website, kami telah melayangkan risalah ini kepada pihak yang bersangkutan melalui perantara seorang ikhwah, semoga Allah membalas kebaikannya. Akan tetapi entah mengapa sampai saat ini tidak ada tanggapan yang diberikan kepada kami. Semoga dengan ditampilkannya tulisan ini di situs ini dapat menggugah kesadaran mereka dan menjadi pelajaran bagi yang lainnya. Dengan mengharapkan pertolongan dari Allah ta’ala dan taufik dari-Nya kemudian kelapangan dada mereka untuk menerima kebenaran maka dengan ini perkenankanlah kami untuk melayangkan sepucuk surat ini di dunia maya, semoga Allah membimbing kita di atas jalan-Nya. Wallahul haadi ila sawaa’is sabiil.

Isi Risalah

Segala puji bagi Allah, Zat yang telah menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji hamba-Nya siapakah di antara mereka yang terbaik amalnya. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi penyeru tauhid dan pemberantas syirik Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Amma ba’du.

Beberapa waktu yang lalu seorang teman memperlihatkan sebuah buku mungil kepada saya. Buku tersebut disusun sebagai buku Panduan Asistensi Agama Islam di Universitas Gadjah Mada. Setelah membaca isinya maka saya dikejutkan oleh sebuah pembahasan di dalamnya. Ketika menafsirkan kalimat syahadat Laa ilaaha illallah maka penyusun buku itu mengartikan Laa ilaaha illallaah dengan berbagai penafsiran yang sungguh sangat jauh dari kandungan kalimat tauhid yang sebenarnya. Bagaimana tidak terkejut apabila dengan tanpa malu-malu mereka menafsirkan Laa ilaaha illallah dengan makna Laa khaaliqa illallaah (tiada pencipta selain Allah), Laa maalika illallaah (tiada penguasa selain Allah) dan seterusnya hingga yang paling parah mereka mengatakan bahwa makna Laa ilaaha illallaah adalah Laa ma’buuda illallaah (tiada sesembahan selain Allah) ?!!! Duhai, ….inikah dakwahnya para Nabi ‘alaihimush shalatu was salaam? Maha Suci Allah, inikah ajaran yang hendak ditanamkan kepada para mahasiswa muslim di bangku-bangku perkuliahan?

Saudaraku, tidak henti-hentinya para ulama menasihati kita dengan pena dan lisan mereka, di balik lembaran-lembaran kertas dan di atas mimbar-mimbar masjid. Wahai saudaraku, para ulama adalah ahli waris para Nabi. Oleh sebab itu seraplah ilmu dari mereka. Berdakwahlah sebagaimana mereka. Dakwah yang dibangun di atas ilmu dan keterangan. Sebagaimana diperintahkan oleh Allah kepada Nabi-Nya,

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Katakanlah, inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kamu kepada Allah di atas landasan bashirah (ilmu). Maha Suci Allah, aku bukan termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Yusuf: 108)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan bahwa bashirah yang dimaksud dalam ayat ini mencakup ilmu tentang materi yang disampaikan, tata cara menyampaikannya serta keadaan orang yang didakwahi (lihat Al Qaulul Mufid). Sebagian dari para ulama ada yang mengatakan, “Barang siapa yang menyembah Allah tanpa ilmu maka dia akan lebih banyak merusak daripada memperbaiki.” Saudaraku, sama sekali kita tidak menuduh niat kalian. Akan tetapi perhatikanlah pemahaman kalian terhadap ajaran Islam.

Imam Ibnul Qayyim mengatakan, “Pemahaman yang benar dan niat yang baik adalah termasuk nikmat paling agung yang dikaruniakan Allah kepada hamba-Nya. Bahkan tidaklah seorang hamba mendapatkan pemberian yang lebih utama dan lebih agung setelah nikmat Islam daripada memperoleh kedua nikmat ini. Bahkan kedua hal ini adalah pilar tegaknya agama Islam, dan Islam tegak di atas fondasi keduanya. Dengan dua nikmat inilah hamba bisa menyelamatkan dirinya dari terjebak di jalan orang yang dimurkai (al maghdhuubi ‘alaihim) yaitu orang yang memiliki niat yang rusak. Dan juga dengan keduanya ia selamat dari jebakan jalan orang sesat (adh dhaalliin) yaitu orang-orang yang pemahamannya rusak. Sehingga dengan itulah dia akan termasuk orang yang meniti jalan orang yang diberi nikmat (an’amta ‘alaihim) yaitu orang-orang yang memiliki pemahaman dan niat yang baik. Mereka itulah pengikut shirathal mustaqim…” (I’laamul Muwaqqi’iin, 1/87, dinukil dari Min Washaaya Salaf, hal. 44).

Saudaraku, sebagaimana kita yakini bahwa kalimat Laa ilaaha illallaah adalah sebuah kalimat suci yang menjadi sebab seorang manusia terjaga darah dan hartanya. Laa ilaaha illallaah adalah sebuah kalimat suci yang menjadi kunci untuk masuk surga. Laa ilaaha illallaah sebuah kalimat suci yang menyelamatkan hamba dari siksa abadi di dalam neraka. Laa ilaaha illallah sebuah kalimat suci yang menyatukan umat manusia dari berbagai suku bangsa dan dari berbagai penjuru bumi di atas ikatan aqidah Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mempersaksikan Laa ilaaha illallaah wa anna Muhammadar Rasulullaah…” (HR. Bukhari dan Muslim)

Beliau juga bersabda, “Barangsiapa yang akhir ucapan hidupnya Laa ilaaha illallaah maka pasti masuk surga.” (HR. Abu Dawud (3116) Ahmad (5/233,247) Al Haakim (1/351,500) dari hadits Mu’adz bin Jabal. Al Haakim menilainya shahih dan Adz Dzahabi menyetujuinya. Al Albani menilainya hasan di dalam Irwa’ul Ghalil (3/150)). (lihat Al Minhah Al Ilahiyah fi Tahdzib Syarh Ath Thahawiyah, hal. 35)

Allah ta’ala berfirman yang artinya,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

“Sesungguhnya orang-orang beriman sajalah yang bersaudara.” (QS. Al Hujuraat : 10)

Dan Allah ta’ala sendiri yang memerintahkan kita untuk memahami makna kalimat nan agung ini. Allah ta’ala berfirman,

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ

“Maka ketahuilah sesungguhnya tiada sesembahan yang hak selain Allah…” (QS. Muhammad: 19)

Apakah Makna Laa ilaaha illallaah ?

Setelah kita meyakini bersama betapa tingginya kedudukan kalimat ini maka sudah semestinya kita berusaha memahami maknanya dengan benar. Ingat, pemahaman yang benar, itulah yang kita inginkan. Sekarang marilah kita renungkan penafsiran mereka yang mengatakan bahwa makna Laa ilaaha illallaah adalah tidak ada pencipta selain Allah, tidak ada penguasa selain Allah, tidak ada pemberi rezeki selain Allah, tidak ada pengatur selain Allah dan tidak ada sesembahan selain Allah…. Pikirkanlah dengan jernih, dan timbanglah dengan timbangan keadilan yaitu Al Quran dan As Sunnah. Allah ta’ala berfirman,

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا

“Kemudian apabila kalian berselisih dalam suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul, jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir, hal itu lebih baik bagi kalian dan lebih baik hasilnya.” (QS. An Nisaa’: 59)

Sebelumnya perlu saya sebutkan di sini bahwasanya keyakinan tentang Allah sebagai satu-satunya pencipta, satu-satunya penguasa, satu-satunya pemberi rezeki dan satu-satunya pengatur alam semesta adalah keyakinan yang benar dan tidak ada keraguan tentangnya. Allah ta’ala berfirman,

أَلاَ لَهُ الْخَلْقُ وَالأَمْرُ

“Ingatlah, sesungguhnya mencipta dan memerintah adalah hak Allah semata.” (QS. Al A’raaf: 54)

Allah juga berfirman,

اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ

“Allah adalah pencipta segala sesuatu.” (QS. Az Zumar: 62)

Allah berfirman,

الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam.” (QS. Al Fatihah: 1)

Allah juga berfirman,

وَلِلّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ

“Dan hanya milik Allah kerajaan langit dan bumi.” (QS. Ali Imran: 189)

Allah ta’ala juga berfirman,

قُلْ مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ أَمَّن يَمْلِكُ السَّمْعَ والأَبْصَارَ وَمَن يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيَّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ الأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللّهُ

Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah.” (QS. Yunus: 31)

Allah ta’ala berfirman,

اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ

“Allah lah yang melapangkan rezeki bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya dan Dia juga menyempitkan baginya…” (QS. Al ‘Ankabuut: 62)

Sehingga jelaslah bagi kita dari ayat-ayat yang mulia ini tentang keesaan Allah dalam hal mencipta, menguasai dan mengatur alam serta memberikan rezeki kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Bahkan keyakinan ini juga dimiliki oleh orang-orang kafir. Simaklah firman Allah ta’ala,

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ

“Dan sungguh apabila kamu menanyakan kepada mereka, Siapakah yang menciptakan langit dan bumi niscaya mereka menjawab Allah.” (QS. Luqman: 25)

Bahkan lebih dari itu, mereka juga meyakini bahwa hanya Allah lah yang berkuasa untuk menyelamatkan mereka dari bahaya besar yang mengancam jiwa. Allah ta’ala menceritakan kisah mereka di dalam ayat-Nya,

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

“Ketika mereka naik kapal (dan diterpa badai) maka mereka pun berdoa kepada Allah dengan ikhlas (memurnikan ketaatan) dan tatkala Allah selamatkan mereka ke daratan mereka pun kembali berbuat kesyirikan.” (QS. Al ‘Ankabuut: 65)

Nah, sekarang persoalannya adalah apakah keyakinan itu –yang menyatakan bahwa tidak ada pencipta, penguasa, pengatur dan pemberi rezeki selain Allah- adalah makna yang dimaksud oleh kalimat Laa ilaaha illallaah? Cobalah pikirkan hal ini dengan baik. Kemudian sebelum menjawabnya ingatlah berbagai konsekuensi yang terlahir dari kalimat ini. Bukankah orang yang mengikrarkan Laa ilaaha illallaah (dan tidak melakukan pembatalnya) pasti masuk surga? Bukankah orang yang mengikrarkan Laa ilaaha illallaah dan mati di atas aqidah ini tidak akan kekal di neraka? Bukankah orang yang telah ber-Laa ilaaha illallaah haram untuk diperangi, haram ditumpahkan darah dan haram diambil hartanya? Bukankah dengan kalimat Laa ilaaha illallaah permusuhan dan kebencian berubah menjadi pembelaan dan kecintaan? Marilah kita buka lembaran mushaf dan menyimak sebuah ayat yang mulia. Allah ta’ala berfirman,

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الْبَاطِلُ

“Yang demikian itu dikarenakan Allah adalah (sesembahan) yang Haq adapun segala sesuatu yang mereka sembah selain-Nya adalah (sesembahan) yang Bathil.” (QS. Luqman: 30)

Ayat ini menunjukkan bahwa sesembahan selain Allah adalah sesembahan yang batil, sesembahan yang tidak berhak untuk diibadahi. Di dalam ayat yang lain Allah menceritakan sikap orang-orang kafir yang menolak dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah berfirman,

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُو آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ

“Sesungguhnya apabila mereka diperintahkan untuk mengucapkan Laa ilaaha illallaah maka mereka pun menyombongkan diri, dan mereka justru berkata, akankah kami tinggalkan sesembahan-sesembahan kami hanya gara-gara ajakan seorang penyair gila?” (QS. Ash Shaffaat: 35)

Ayat ini menunjukkan bahwa apabila orang-orang kafir mengucapkan Laa ilaaha illallaah maka mereka harus meninggalkan sesembahan-sesembahan mereka selain Allah. Oleh sebab itu mereka enggan untuk tunduk. Mereka tidak mau mengucapkan kalimat tauhid yang mulia dan suci ini. Walaupun tatkala mereka ditanya siapakah yang menciptakan mereka, siapakah yang menciptakan langit dan bumi, siapakah yang mencurahkan rezeki, siapakah yang mengatur jagad raya ini maka mereka pun menjawab hanya Allah lah yang melakukan itu semua. Duhai, pikirkanlah kenyataan ini baik-baik. Di satu sisi mereka menolak Laa ilaaha illallaah. Dan di sisi lain mereka mengakui bahwa satu-satunya pencipta, penguasa, pengatur dan pemberi rezeki adalah Allah subhanahu wa ta’ala. Tidakkah kalian melihat kenyataan yang sangat gamblang ini? Semuanya berdasarkan dalil yang tegas dan jelas dari Al Quran. Akankah kita mengingkari atau meragukannya?

Apabila kita lihat di dalam Al Quran, Allah telah menceritakan keadaan orang-orang kafir dan musyrik yang dihadapi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah ta’ala berfirman,

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ

“Dan sungguh jika engkau tanyakan kepada mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi, niscaya mereka akan menjawab, “Allah.” (QS. Luqman : 25)

Allah juga berfirman,

قُل لِّمَنِ الْأَرْضُ وَمَن فِيهَا إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

“Katakanlah, ‘Siapakah yang memiliki bumi beserta segala sesuatu yang ada di dalamnya, jika kalian mengetahui’. Niscaya mereka akan menjawab, “milik Allah” Lalu kenapa kalian tidak mau mengambil pelajaran” (QS. Al Mu’minuun: 84-85)

Inilah yang disebut dengan tauhid Rububiyah. Yaitu mengakui bahwasanya Allah lah satu-satunya pencipta dan penguasa alam semesta. Imam Ibnu Abil ’Izz Al Hanafi rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya orang-orang musyrik Arab sudah mengakui tauhid rububiyah…” Kemudian beliau menyebutkan dua ayat di atas sebagai dalilnya. (lihat Syarah ‘Aqidah Ath Thahawiyah, hal. 21 cet Darul ‘Aqidah).

Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah mengatakan, “Dan tauhid jenis ini (yaitu tauhid rububiyah) telah diakui oleh orang-orang musyrik penyembah berhala. Meskipun kebanyakan dari mereka juga menentang adanya hari kebangkitan dan dikumpulkannya manusia (kelak di hari kiamat). Dan pengakuan ini belumlah memasukkan mereka ke dalam agama Islam karena kesyirikan mereka (dalam beribadah kepada-Nya) dengan menyembah arca dan berhala (di samping menyembah Allah) dan juga karena mereka tidak mau beriman terhadap Rasul Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (lihat Syarah ‘Aqidah Ath Thahawiyah, hal. 18-19. cet Darul ‘Aqidah).

Lalu setelah kita meyakininya maka timbul pertanyaan berikutnya. Kalau mereka (orang-orang kafir Quraisy) sudah yakin tentang hal itu semua lalu mengapa mereka tetap menentang kalimat Laa ilaaha illallaah yang diserukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Bukankah mereka sudah mengakui Allah satu-satunya pencipta, penguasa, pengatur dan pemberi rezeki kepada mereka? Lalu mengapa mereka tetap tidak mau tunduk mengucapkan Laa ilaaha illallaah?! Kalau memang makna Laa ilaaha illallaah adalah tidak ada pencipta selain Allah, tidak ada penguasa selain Allah, tidak ada pengatur selain Allah sebagaimana hal itu telah mereka yakini dan ucapkan maka mengapa mereka tidak mau mengucapkan sebuah kalimat yang semakna dengannya yaitu Laa ilaaha illallaah? Bukankah mereka sama-sama orang Arab yang paham dengan bahasanya sendiri?

Renungkanlah saudaraku, ini adalah bukti nyata bahwa sesungguhnya makna Laa ilaaha illallaah adalah bukan itu semua. Karena apabila keyakinan-keyakinan itu yang dimaksud oleh Laa ilaaha illallaah maka tentunya orang kafir Quraisy sudah menerimanya dan dengan mudah menyambut dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa perlu ada pertumpahan darah dan tanpa harus menyebabkan korban nyawa berjatuhan. Lihatlah sejarah, ternyata karena kalimat Laa ilaaha illallaah inilah beliau harus diperangi, dibenci, diboikot, dilempari batu hingga berdarah. Dan begitu pula para sahabatnya. Mereka disiksa, ditindih dengan batu di atas teriknya padang pasir, dibunuh dengan cara yang sangat keji dan tidak berperikemanusiaan, hanya karena satu kalimat yaitu Laa ilaaha illallaah. Kalaulah kita terima bahwa makna Laa ilaaha illallaah adalah tidak ada pencipta selain Allah maka konsekuensinya adalah orang-orang musyrik yang diperangi Rasul adalah orang-orang yang telah ber-Laa ilaaha illallaah?! Dan itu artinya Rasul telah melakukan tindakan yang sangat tercela yaitu menyelisihi ucapan beliau sendiri. Tidak, sama sekali ini tidak mungkin. Karena beliau berjihad memerangi orang-orang kafir atas perintah dari Allah ta’ala. Allah berfirman yang artinya,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

“Wahai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan munafiq dan bersikap keraslah kepada mereka, dan tempat kembali mereka adalah neraka.” (QS. At Tahriim: 9)

Apakah kita akan mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam salah paham terhadap ayat ini? Ataukah kita kitakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhianati risalah? Duhai, tidak ada yang mengatakan itu semua melainkan orang-orang yang sudah dibutakan mata hatinya !!! Maha Suci Allah, ini adalah kedustaan yang sangat besar…

Oleh sebab itulah maka setiap orang yang berbicara dengan mengatasnamakan agama harus berhati-hati dan waspada. Karena sesuatu yang dibicarakannya adalah terkait dengan Allah dan agama-Nya. Allah ta’ala berfirman yang artinya,

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولـئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً

“Dan janganlah kamu ikuti sesuatu yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya, karena sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati itu semua akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al Isra’: 36)

Kalau ada seorang insinyur bangunan berbicara seenaknya tentang seluk beluk penyakit mata maka tentunya para dokter mata akan merasa risih mendengarnya. Lalu bagaimana lagi apabila ada seorang manusia yang berbicara tentang makna kalimat tauhid dengan seenaknya, tanpa berpikir panjang tentang akibat dari ucapannya?!! Apakah dengan menafsirkan Laa ilaaha illallaah sebagai tidak ada pencipta selain Allah akan melahirkan sebuah pemahaman yang komprehensif? Apakah dengan menafsirkan Laa ilaaha illallaah sebagai tidak ada penguasa alam selain Allah akan membuahkan pemahaman yang sempurna? Apakah ini yang disebut dengan kebijaksanaan atau hikmah yang sering dibangga-banggakan oleh sebagian golongan?

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
(Ketua Lembaga Bimbingan Islam Al-Atsary Yogyakarta Periode 1427-1428)

-bersambung Insya Allah-





Leave a Comment