Hari Hari mu adalah Umur mu..

العلماء هم ضالتي في كل بلدة وهم بغيتي ووجدت صلاح قلبي في مجالسة العلماء // Orang-orang yang berilmu agama adalah orang yang kucari di setiap tempat. Mereka adalah tujuan yang selalu kucari. Dan aku menemukan keshalihan hatiku di dalam bergaul dengan mereka. (حلية الأولياء وطبقات الأصفياء , IV/85 )

Makna Laa ilaaha Illallaah

Perlu diingat bahwa makna Laa ilaaha Illallaah adalah tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah. Bukanlah makna syahadat ini sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian orang yang tidak paham. Mereka menganggap bahwa makna Laa ilaaha Illallaah adalah tiada pencipta selain Allah. Karena sekedar mengetahui bahwa Allah adalah satu-satunya pencipta belumlah memasukkan orang yang mengetahuinya ke dalam lingkaran Islam. Allah ta’ala berfirman,

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِن دُونِهِ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

“Yang demikian itu dikarenakan Allah adalah Al Haq adapun segala sesuatu yang mereka sembah selain-Nya itulah Al Baathil.” (QS. Luqman: 30)

Di antara mereka ada juga yang beranggapan bahwa makna Laa ilaaha Illallaah adalah tidak ada tuhan selain Allah (Laa ma’buuda illallaah). Pemaknaan seperti ini jelas keliru ditinjau dari dua sudut pandang:

Pertama, Allah menyebut bahwa tuhan yang disembah orang musyrik itu banyak. Allah berfirman,

فَمَا أَغْنَتْ عَنْهُمْ آلِهَتُهُمُ الَّتِي يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ لَمَّا جَاءَ أَمْرُ رَبِّكَ

“Maka sedikitpun sesembahan-sesembahan yang mereka seru selain Allah itu tidak mampu memberikan manfaat bagi mereka ketika keputusan Tuhanmu telah datang.” (QS. Huud: 101)

Ini menunjukkan bahwa tuhan yang disembah manusia itu memang banyak, tidak hanya satu. Apabila Laa ilaaha Illallaah diartikan tidak ada tuhan selain Allah maka jelas bertentangan dengan kenyataan ini.

Kedua, apabila dikatakan bahwa makna Laa ilaaha Illallaah adalah tidak ada tuhan selain Allah maka hal ini memberikan konsekuensi yang salah. Apa konsekuensinya? Konsekuensinya adalah semua yang disembah adalah Allah. Sebagaimana apabila kita mengatakan bahwa tidak ada Nabi kecuali lelaki. Maka konsekuensinya adalah semua Nabi adalah lelaki. Ini persis dengan pernyataan tidak ada tuhan kecuali Allah. Sebab konsekuensinya adalah semua tuhan adalah Allah. Cobalah cermati dengan baik!!! niscaya anda akan memahaminya. Padahal tuhan yang disembah umat manusia di atas muka bumi ini sangat banyak. Ada yang menyembah sapi, ada yang menyembah arca dan dewa-dewa, ada yang menyembah api, ada yang menyembah matahari, ada yang menyembah Nabi dan malaikat, apakah akan kita katakan bahwa semua yang disembah itu adalah Allah? Tentu tidak. Maka sekali lagi makna Laa ilaaha Illallaah yang benar adalah tiada sesembahan yang berhak untuk disembah selain Allah.

Syaikh Shalih Al Fauzan mengatakan, “Semua tafsiran tersebut (tidak ada tuhan selain Allah, tidak ada pencipta selain Allah, tidak ada pembuat hukum kecuali Allah, pent) adalah batil atau kurang sempurna. Hal ini perlu kami tegaskan di sini karena tafsir-tafsir semacam ini terdapat di dalam buku-buku yang banyak beredar. Adapun penafsiran yang benar untuk kalimat ini menurut para ulama salaf dan ahli tahqiq (peneliti) adalah: Laa ma’buuda bihaqqin illallaah, tiada sesembahan yang memiliki hak untuk disembah dengan benar kecuali Allah…” (Kitab Tauhid, hal. 45).

Dari Ibnu Abbas radhiallahu ’anhuma, diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika mengutus Mu’adz ke negeri Yaman, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari kalangan Ahli Kitab. Maka hendaknya dakwah pertama yang kau sampaikan kepada mereka adalah syahadat Laa ilaaha Illallaah–dalam riwayat lain disebutkan: supaya mereka mentauhidkan Allah- kemudian apabila mereka sudah menaatimu untuk melakukan itu, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan atas mereka mengerjakan shalat lima waktu dalam sehari semalam. Kemudian apabila mereka telah menaatimu untuk itu maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan shadaqah (zakat) kepada mereka yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka untuk diberikan kepada orang-orang miskin di antara mereka. Kemudian apabila mereka menaatimu untuk itu maka jauhilah harta-harta mereka yang paling berharga. Berhati-hatilah dari doanya orang yang terzhalimi, karena sesungguhnya tidak ada penghalang antara do’anya dengan Allah.” (HR. Bukhari, Muslim, Nasa’i, Ibnu Majah, Ad Darimi dan Ahmad)

Syaikh Rabi’ bin Hadi hafizhahullah mengatakan, “Maksud dari syahadat ini (Laa ilaaha Illallaah) adalah segala macam bentuk ibadah adalah hak yang harus ditunaikan kepada Allah saja, tidak ada sesuatu pun selain-Nya yang berhak untuk mendapatkannya barang sedikitpun. Entah dia malaikat yang didekatkan, Nabi yang diutus, orang shalih, batu, pohon, matahari ataupun bulan. Oleh sebab itu tidak boleh diibadahi kecuali Allah saja. Tidak boleh meminta pertolongan supaya dihilangkan bahaya yang sudah menimpa kecuali kepada-Nya. Tidak boleh dimintai pertolongan kecuali Dia. Tidak boleh bertawakal kecuali kepada-Nya. Tidak boleh menjadi sasaran rasa takut dan harap (yang disertai setundukan -pent) kecuali Dia. Sehingga barang siapa yang memalingkan salah satu bentuk ibadah tersebut atau ibadah-ibadah yang lainnya kepada selain Allah maka sesungguhnya dia telah mempersekutukan Allah. dan barang siapa yang mempersekutukan Allah maka sungguh surga telah diharamkan baginya dan tempat tinggalnya adalah neraka. Dan tidak ada satu penolong pun bagi orang-orang zhalim (musyrik) itu.”

Beliau melanjutkan keterangannya, “Dan bukanlah yang dimaksud dengan Laa ilaaha Illallaah sekedar mengucapkannya. Karena ucapan itu juga harus disertai dengan pemahaman terhadap maknanya, mengamalkan isi dan konsekuensinya. Dan juga harus terpenuhi syarat-syaratnya yang berjumlah tujuh:

Pertama: Mengetahui (maknanya) yang menafikan kebodohan.
Kedua: Keyakinan yang menafikan rasa ragu.
Ketiga: Menerima yang menafikan penolakan.
Keempat: Ketundukan yang menafikan sikap meninggalkan.
Kelima: Keikhlasan yang menafikan kesyirikan.
Keenam: Kejujuran yang menafikan kedustaan.
Ketujuh: Kecintaan yang menafikan lawannya.
(lihat Mudzakkirah Al Hadits An Nabawi).

Sebagian orang ada lagi yang mengartikan Laa ilaaha Illallaah sebagai tiada penetap hukum selain Allah (Laa Haakimiyyata Illallaah). Maka hal ini juga belum sempurna. Karena penetapan hukum hanyalah sebagian saja dari makna rububiyah Allah ta’ala. Sedangkan perbuatan hamba tatkala memutuskan hukum itu termasuk dalam cakupan hak uluhiyah Allah. Maka orang yang memutuskan hukum dengan selain hukum Allah telah melakukan syirik dalam hal uluhiyah dan rububiyah sekaligus. Hal ini apabila pelakunya meyakini berhukum dengan selain hukum Allah itu boleh atau lebih baik. Padahal cakupan Laa ilaaha Illallaah lebih luas daripada sekedar masalah hukum. Laa ilaaha Illallaah mencakup semua bentuk ibadah. Dapat kita katakan bahwa kandungan Laa ilaaha Illallaah adalah mengesakan Allah dalam uluhiyah-Nya, bukan sekedar rububiyah saja. Perlu dimengerti bahwa setiap orang yang telah bertauhid uluhiyah secara otomatis juga sudah pasti bertauhid rububiyah. Akan tetapi tidak sebaliknya. Tidak setiap orang yang bertauhid rububiyah mengakui tauhid uluhiyah.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Pendapat yang benar menyatakan bahwa berhukum dengan selain hukum yang diturunkan Allah bisa mencakup dua jenis kekafiran: ashghar dan akbar, tergantung keadaan si pengambil keputusan. Apabila dia meyakini kewajiban berhukum dengan hukum yang diturunkan Allah pada kejadian tersebut kemudian dia berpaling darinya karena durhaka, dan dia masih mengakui dirinya pantas untuk dijatuhi hukuman atas tindakannya itu maka ini adalah kufur ashghar. Dan apabila dia berkeyakinan bahwa hal itu tidak wajib baginya, atau bebas memilih (untuk berhukum dengannya atau tidak) dengan catatan dia meyakini bahwa itu memang hukum Allah maka ini adalah kufur akbar. Sedangkan apabila hal itu terjadi karena kebodohan atau tidak sengaja melakukan kesalahan maka ia disebut orang yang tersalah. Berlaku padanya hukum orang yang tidak menyengaja berbuat salah…” (Madaarijus Saalikiin I/335-337). Dinukil dari Mukadimah Ilmiah Syaikh Salim Al Hilaly hafizhahullah dalam kitab Tahdziir Ahlil Imaan ‘anil Hukmi bighairi maa anzalar Rahman, hal. 30-31.

Dengan demikian jelaslah bahwa orang yang hanya mengucapkan Laa ilaaha Illallaah tapi tidak mengetahui maknanya maka dia bukan termasuk muslim yang hakiki. Syahadatnya tidak sah. Meskipun dia mengucapkannya ribuan kali dalam sehari!! Sebab dia telah kehilangan salah satu syarat syahadat yang terpenting yaitu mengetahui maknanya. Pantaslah apabila dahulu orang kafir Quraisy tidak mau menerima ajakan Nabi untuk mengucapkan kalimat ini. Karena mereka mengetahui apa maknanya. Sebab makna kalimat ini adalah mereka harus meninggalkan peribadatan kepada sesembahan-sesembahan mereka dan hanya beribadah kepada Allah saja. Maka sungguh mengenaskan, nasib orang yang kalah dengan orang kafir Quraisy dalam hal memahami kalimat tauhid.

Syaikh Al Imam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah mengatakan, “…Sungguh mengherankan ada orang yang mengaku beragama Islam sementara dia sendiri tidak mengetahui tafsir kalimat ini, padahal orang-orang kafir yang bodoh saja mengetahuinya. Bahkan (lebih parah lagi) dia menyangka bahwa syahadat itu cukup dengan mengucapkan kata-kata saja tanpa keyakinan hati tentang kandungan maknanya. Orang yang cerdik di antara mereka bahkan ada yang mengira maknanya (kalimat tauhid) adalah: tiada yang mencipta, memberi rezeki kecuali Allah, tiada yang mengatur segala urusan kecuali Allah. Oleh karenanya tidak terdapat kebaikan sama sekali pada diri seseorang yang orang-orang bodoh dari kaum kafir saja lebih paham darinya tentang kandungan makna Laa ilaaha Illallaah.” (Kasyfu Syubuhaat, dinukil dari At Taudhihaat Al Kaasyifaat ‘ala Kasyfi Syubuhaat, Syaikh Muhammad bin Abdullah Al Habdaan hal. 101).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, “Apakah kesyirikan yang dilakukan oleh kaum musyrikin yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus di tengah mereka?” Maka beliau menjawab, “Apabila dilihat dari sisi kesyirikan orang-orang musyrik yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus di tengah mereka. Maka sesungguhnya letak kesyirikan mereka bukanlah dalam hal rububiyah. Karena Al Quran Al Karim menunjukkan bukti bahwa mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan Allah dalam hal ibadah saja. Adapun dalam hal rububiyah, maka mereka itu beriman kalau Allah adalah Rabb (pencipta dan pemelihara) satu-satunya. Mereka juga meyakini kalau Allah lah yang bisa mengabulkan doa orang-orang yang dalam keadaan terjepit. Mereka juga beriman kalau Allah lah yang sanggup menyingkapkan berbagai keburukan dan bahaya, dan mereka juga mengakui hal-hal yang lainnya. Sebagaimana sudah disebutkan Allah tentang mereka yaitu pengakuan mereka terhadap keesaan rububiyah Allah ‘azza wa jalla. Akan tetapi mereka itu orang-orang yang mempersekutukan Allah dalam peribadatan, yaitu mereka menyembah sesembahan lain selain menyembah Allah. Dan ini merupakan kesyirikan yang mengeluarkan pelakunya dari agama…” (Fatawa Arkanil Islam, hal. 18).

Berdasarkan dalil-dalil dan keterangan para ulama di atas maka kesimpulan yang bisa kita dapatkan adalah makna yang benar dari kalimat tauhid Laa ilaaha Illallaah adalah Laa ma’buuda bihaqqin illallaah, artinya tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah. Adapun penafsiran yang lainnya tidak benar. Ini menunjukkan kepada kita bahwa sesembahan selain Allah itu memang ada akan tetapi sesembahan yang batil. Sehingga sekali lagi kami tegaskan bahwa penafsiran Laa ilaaha Illallaah sebagai Laa ma’buuda illallaah (tiada sesembahan kecuali Allah) adalah penafsiran yang batil dan melahirkan konsekuensi yang sangat keji. Oleh sebab itu melalui surat terbuka ini saya menghimbau agar penjelasan tersebut (berbagai tasfiran Laa ilaaha Illallaah yang menyimpang) untuk segera diralat. Demikian juga keterangan serupa yang sudah pernah disebarluaskan oleh pihak-pihak lain untuk diralat dan dikoreksi. Dengan demikian maka kewajiban kami untuk menyampaikan kebenaran ini sudah kami laksanakan. Ya Allah, saksikanlah…

Bagi siapa saja yang ingin menelaah lebih dalam tentang tafsiran Laa ilaaha Illallaah dengan benar maka silakan membaca:

Hushuulul Ma’muul bi Syarhi Tsalatsatil Ushul karya Syaikh Abdullah bin Shalih Al Fauzan, hal. 109-114.
Thariiqul Wushuul ilaa Idhaahi Tsalatsatil Ushul karya Syaikh Zaid bin Hadi Al Madkhali, hal. 158-161.
Fathul Majid Syarhu Kitaabit Tauhid karya Syaikh Abdurrahman bin Hasan, hal. 15-17, 38-40, dst. Cet Darul Hadits.
Al Qaulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid jilid 1 karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, hal. 93-102. Tahqiq Hani Al Haj Cet Maktabah Al Ilmu.
At Tanbihaat Al Mukhtasharah Syarh Al Wajibaat karya Ibrahim bin Syaikh Shalih Al Khuraishi, hal. 35-36.
At Tamhiid li Syarhi Kitabit Tauhid karya Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alusy Syaikh, hal. 74-78.
Minhaaj Al Firqah An Najiyah karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, hal. 21-22 dan lain-lain (Edisi terjemahan: Jalan Golongan Selamat -ed).
Bagi yang ingin membaca penjelasan tentang makna Laa ilaaha Illallaah dan kerancuan seputarnya silakan juga membaca buku yang telah ditulis oleh guru kami Ustadz Abu ‘Isa Abdullah bin Salam hafizhahullah yang berjudul Sucikan Iman Anda dari Noda Syirik dan Penyimpangan (penjelasan kitab Al Qaul Al Mufid fii Adillati Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al ‘Abdali hafizhahullah) yang diterbitkan oleh Pustaka Muslim.

Di akhir surat ini saya memohon ampun kepada Allah apabila terdapat kekeliruan dalam tulisan yang saya susun ini. Kebenaran datang dari Allah, sedangkan kesalahan bersumber dari saya, oleh karena itu Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari kesalahan saya. Semoga Allah membukakan hati para murabbi untuk menerima kebenaran dan rujuk kepadanya. Semoga Allah membimbing kita untuk meraih cinta dan ridha-Nya. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi Muhammad, para sahabat dan seluruh pengikut mereka yang setia. Segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam.

Yogyakarta, 16 Dzulqa’dah 1427 H/6 Desember 2006

Tertanda
Ketua Lembaga Bimbingan Islam Al-Atsary Yogyakarta

Ari Wahyudi





Leave a Comment