Hari Hari mu adalah Umur mu..

العلماء هم ضالتي في كل بلدة وهم بغيتي ووجدت صلاح قلبي في مجالسة العلماء // Orang-orang yang berilmu agama adalah orang yang kucari di setiap tempat. Mereka adalah tujuan yang selalu kucari. Dan aku menemukan keshalihan hatiku di dalam bergaul dengan mereka. (حلية الأولياء وطبقات الأصفياء , IV/85 )

  • Apakah kamu seorang salafi ?
  • Bukankah kamu adalah seorang salafi ?
  • Sejak kapan kamu masuk gerakan ini ?

Sebelum aku menjawab pertanyaan ini, maka ijinkan juga lah aku untuk bertanya pula kepada anda.

Dari mana anda tahu bahwa aku adalah seorang salafi ?

Tolong berikan contoh bahwa aku seorang salafi ?

Atau tolong ajukan satu atau lebih dari satu pertanyaan, yang mana sekiranya aku jawab, maka jawaban aku itu akan membuktikan apakah aku ini benar seorang salafi atau bukan !

Dan aku tidak menharapkan jawabannya sekarang, mudah-mudahan apa yang aku tulis di bawah ini akan menjadikan gambaran dan penjelasan terhadap pertanyaan anda semua yang ada di paragraph pertama.

بسم الله والحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
اما بعد

Ya ikhwatul muslim , aazaniayallahu wa iyyakum..

Dengan segala keterbatasan ilmu, aku coba menjelaskan kepada anda semua dalam rangka untuk ta’awun ‘ala birri wat taqwa. Nasehat menasehati dalam kebenaran, dan tidak ada sedikitpun niat dari kami untuk mengadakan perselisihan kepada anda semua. Agar semua kita berjalan di atas ilmu, di atas aqidah dan pemahaman yang benar dan bukan dalam prasangka yang mana itu akan membuat pertikaian dan permusuhan yang berkepanjangan.

Definis As Salaf

Aku akan mulai menjelaskan apa itu salaf. Ditinjau dari dua sisi. Menurut sisi bahasa dan menurut istilah.

Menurut bahasa : Salaf artinya yang telah lalu. Misal , sebuah kalimat berbunyi, “Al Qaum as salaf” , artinya kaum yang terdahulu. Kalau dikatakan salafur rajul , artinya : Bapak – bapak mereka yang terdahulu.

Kata salaf juga bermakna : seseorang yang telah mendahului (atau orang terdahulu) dalam masalah ilmu, iman, keutamaan, dan kebaikan. Sebagimana kata Ibnu Manzhur dalam kitab Lisaanul ‘Arab, “bahwa Salaf juga berarti orang-orang yang mendahului anda, baik dari bapak maupun orang-orang terdekat (kerabat) yang lebih tua umurnya dan lebih utama. Karena itu generasi pertama dari umat ini dari kalangan para Tabi’in disebut sebagai As Salafush Shalih”.

Misalnya :

Anda berumur 30 tahun. Sedangkan saya berumur 20 tahun. Berarti Anda adalah salaf bagi saya . Artinya, anda adalah pendahulu saya. Yang telah mendului saya dalam masalah umur, dalam masalah keilmuan, keutamaan, keimanan, dan lain-lain sebagainya.

Sebaigamana sabda Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam kepada anaknya, Fathimah az Zahra radhiallahu’anha. Beliau berkata kepada putrinya, “fainnahu ni’mas salafu ana laki = Sesungguhnya sebaik-baik salaf (pendahulu) bagimu adalah aku.”

Oleh sebab itu Rasululullah shalallahu’alaihi wa sallam adalah Salaf bagi kita semua. Artinya, beliau adalah pendadahulu kita, yang telah mendahului kita dalam keimananan, amal, ilmu, dan lain-lain sebagainya.

Aku harap kalian mengerti sampai di sini.

Ikhwatun fiddin , aazaniayallahu wa iyyakum..


Definis As Salaf menurut Istilah Syar’i

Sebagaimana yang telah dijelaskan tadi, bahwa salaf adalah orang yang telah mendahului kita.

Maka secara syar’I, bahwa yang kita maksud dengan salaf tersebut adalah para sahabat nabi radhiallahu’anhum. Adapun selain mereka ikut serta dalam makna salaf ini, yaitu orang-orang yang mengikuti mereka. Artinya , apabila mereka mengikuti para sahabat nabi, maka mereka ini lah yang disebut dengan Salafiyyun , yaitu orang-orang yang mengikuti generasi terbaik dari ummat ini, yaitu generasi Salafush Shalih.

Para ulama pun bersepakat, bahwa yang dimaksud dengan salaf adalah para sahabat, sedangkan

SALAFI adalah orang – orang yang mengikuti sahabat nabi radhiallu’anhum.

Aku akan bawakan beberapa perkataan ulama, diantaranya:

Imam Ghazali mengatakan ketika mendefinisikan kata salaf, “yang saya maksud adalah madzab Sahabat dan Tabi’in”. (Iljamul Awaam ‘Aan ‘Ilmil Kalam)

Al Baijuri berkata “Maksud dari orang-orang terdahulu (Salaf) adalah orang-orang terdahulu dari kalangan para Nabi, para Sahabat, Tabi’in, dan para pengikutnya.”

Yang dimaksud dengan Salaf pertama kali adalah Sahabat karena nabi shalallahu’alaihi wa sallam menyebutkan, “Sebaik-baik manusia adalah pada masaku (yaitu masa para sahabat), kemudian sesudahnya (masa Tabi’in), kemudia masa sesudahnya (masa Tabi’ut Tabi’in).” (Muttafaq ‘alaih, diriwayatkan Al Bukhari dan Muslim dari Sahabat Abdullah bin Mas’ud)

Imam Al Auza’I mengatakan (wafat th 157 H), “Bersabarlah dirimu di atas sunnah, tetaplah tegak sebagaimana para Sahabat tegak di atasnya. Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan, tahanlah dirimu dari apa-apa yang mereka menahan diri darinya. Dan ikutilah jalan Salafush Shalih karena akan mencukupimu apa saja yang mencukupi mereka.”

Berdasarkan penjelasan di atas menjadi jelaslah bahwa kata Salaf mutlak ditujukan untuk para Sahabat Nabi salallahu’alaihi wa sallam dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, semoga Allah Ta’ala meridhoi mereka semua. Maka barang siapa yang mengikuti mereka dalam agama yang Haq ini maka ia adalah generasi penerus dari sebaik-baik pendahulu yang mulia.

Makna Salafi, atau Salafiyyun atau Salafiyah

Adapun salafiyyaah, maka itu adalah nisbat kepada Salaf, maksudnya , nisbat kepada para Sahabat Nabi salallahu’alaihi wa sallam.

Syeikhul Islam ibnu Taimiyyah mengatakan dalam kitab Majmu’ Fatawa, “telah diketahui bahwa karakter dan sifat ahlul hawa (pengekor hawa nafsu) ialah meninggalkan atau tidak mau mengikuti generasi Salaf (generasi Sahabat).”

Istilah salaf tidaklah menunjukkan kepada suatu golongan mapun kelompok, tetapi menunjuk kepada orang-orang yang berpegang kepada Al Qur’an dan As Sunnah menurut pemahaman yang benar.


Siapakah salafi itu ?

Sekarang dari penjelasan di atas, maka kita akan mudah mengetahui siapakah yang dimaksud dengan salafi itu.

Salafi ialah setiap orang yang berada di atas manhaj salaf dalam’aqidah, syari’at, akhlak dan dakwah.

Yang dimaksud dengan manhaj adalah : jalan atau kaidah-kaidah atau metode.

Berkata Syaikh DR. Shalih bin Fauzan, “setiap langkah yang dilakukan seorang muslim dikatakan Manhaj.”

Berkata Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah, di dalam kitab Syarh Aqidah Al Wasithiyyah, Ahlussunnah wal jama’ah adalah para Salaf (para Sahabat Nabi) sampai generasi akhir. Barangsiapa yang berada di atas jalannya Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam dan para Sahabatnya maka ia adalah seorang Salafi.”

Komite Fatwa Saudi Arabia, yaitu Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al Ilmiyah wa Ifta, pernah ditanya : Apakah yang dimaksud dengan Salafiyyah dan bagaimana pendapat antum sekalian tentangnya?

Maka Al Lajnah menjawab : As Salafiyah adalah penisbatan kepada Salaf, sedangkan Salaf adalah para Sahabat Rasulullah salallahu’alaihi wa sallam dan para imam pembawa petunjuk pada masa tiga kurun pertama – semoga Allag meridhoi mereke – yang disaksikan dengan kabaikan oleh Rasululullah melalui sabda beliau, “Sebaik-baik manusia adalah pada masaku ini (yaitu para Sahabat), kemudian yang sesudahnya, kemudian yang sesudahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sedangkan salafiyyun adalah bentuk jamak dari Salafi, sebuah nisbat kepada Salaf, dan maknanya telah dijelaskan. Mereka adalah orang-orang yang berada di atas manhaj salaf dalam mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah, serta mendakwahkan keduanya dan mengamalkan keduanya. Maka dengan hal itu mereka adalah Ahlussunnah wal Jama’ah. Wabillahi taufiq.

Syaikh DR. Fauzan Al Afauzan –hafizahullah ta’a- berkata, “Salafiyyah artinya berjalan di atas manhaj salaf, yaitu para para Sahabat, Tabi’in, dan generasi-generasi yang diutamakan, dalam hal aqidah, pemahaman maupun tingkah laku, dan seorang muslim wajib menempuh metode ini”.

Lalu, Apakah yang menjadi landasan serta prinsip mereka dalam beragama atau dengan kata lain, bagaimanakah cara mereka beragama atau bagaimanakah manhaj atau metode mereka dalam bergama ?

· Pertama : Sumber aqidah adalah kitabullah (Al Qur’an), sunnah Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam yang shahih serta ijma Salafush Shalih (para sahabat).

Pembahasan : Aqidah merupakan perkara ghoib, yaitu tidak dapat diketahui oleh panca indera dan bersifat tauqifiyyah (harus dengan dalil). Maka tidak boleh ditetapkan sesuatu pun darinya tanpa 2 wahyu, (Qur’an dan Sunnah) serta ijma para sahabat, karna ijma’ mereka ma’shum.

· Kedua : Menjadikan sunnah yang shahih sebagai Hujjah yang mutlak

Pembahasan : Salaf menghormati dan menjunjung tinggi Sunnah Nabi salallahu’alaihi wa sallam.

Sampai-sampai Imam Syafi’I berpendapat bahwa As Sunnah adalah seperti Al Qur’an. Apa yang ditetapkan oleh As Sunnah adalah seperti apa yang ditetapkan oleh Al Qur’an, dan apa yang diharamkan oleh As Sunnah sama dengan apa yang diharamkan oleh Al Qur’an. Sebabnya adalah karena keduanya berasal dari Allah Ta’ala.

· Memahami Nash-nash Syar’I berdasarkan perkataan Ulama terdahulu, tafsir mereka dan pendapat yang dinukil dari mereka.

Pembahasan : Para Sahabat adalah orang-orang yang menemani sekaligus pembela nabi. Oleh karena itu mereka adalah orang yang paling paham terhadap risalah selain mereka. Sesungguhnya, sahabat nabi, mereka selalu bertanya kepada nabi tentang apa yang musykil (tidak diketahui) bagi mereka.

· Menerima wahyu sepenuhnya dan mempergunakan akal menurut fungsi sebenarnya serta tidak melampaui batas dalam perkara-perkara ghaib yang tidak bisa dinalar oleh akal.

Pembahasan : Salah satu prinsip dari Ahlussunnah Salafiyyin ialah berserah diri (taslim), patuh dan ta’at hanya pada Allah dan RasulNya, dan tidak menolak sedikitpun.

Salafush Shalih adalah orang yang paling sempurna akalnya, pengetahuannya dan pemahamannya. Mereka tidak pernah bertanya: Mengapa Allah memerintahkan begini? Mengapa dilarang dari perbuatan ini? Mengapa Allah takdirkan begini? Bagaimana sifat Allah? Tidak pernah seorang salaf bertanya dari dengan pertanyaan seperti ini karena mereka adalah orang yang beriman dan sempurna ilmunya, mereka tunduk, taslim dan membenarkan semua yang datang dari Allah dan RasulNya, mereka bersegera melaksanakan perintah, dan mereka menahan dari apa-apa yang dilarang.

· Menggabungkan (mengkompromikan) semua dalil yang ada dalam satu permasalahan

Pembahasan : Para ulama telah ijma’ (sepakat) bahwa tidak ada satupun dalil-dalil yang qath’I yang bertentangan. Artinya, tidak ada dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah yang bertentangan.

Kemudian, bagaimana cirri-ciri seorang Salafi ? Apa saja sifat-sifatnya sehingga dengannya Seorang muslim berhak dikatakan sebagai Salafi ?

Ikhwah fiddin aazaniallah wa iyyakum

Setelah kita mengetahui wajibnya mengikuti manhaj para sahabat yaitu manhaj salafush sholeh, maka tidak diragukan lagi bahwa hati ini ingin mengetahui sifat-sifat yang menonjol yang apabila seseorang berhias dengannya ia akan menjadi seorang salafi, pengikut para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Oleh karena itu, kami akan membawakan beberapa sifat tersebut.

Mudah-mudahan Allah Ta’ala menghiasi kita dengan sifat-sifat tersebut dan meneguhkan kita di atasnya sampai Allah mewafatkan kita. Amin.

1. Berhukum dengan Al Qur’an dan As Sunnah dalam semua sisi kehidupannya.

Hal itu baik dalam masalah aqidah atau ibadah, akhlak, atau muamalah khusus ketika terjadi perselisihan.

2. Berpegang kepada penjelasan para Sahabat tentang setiap permasalahan agama secara umum, dan lebih khusus lagi mengambil penjelasan mereka dalam masalah ‘aqidah dan manhaj.

3. Tidak memperdalam masalah yang tidak dapat dinalar oleh akal.

Hal itu karena Al Qur’an dan As Sunnah lebih didahulukan daripada akal, dan pada hakikatnya tidak ada pertentangan antara nash (Qur’an dan Sunnah) dengan akal yang sehat.

4. Memperhatikan Tauhid Uluhiyyah

Yaitu mengEsakan Allah ta’ala dalam ibadah, seperti do’a, isti’anah, istighatsah, takut, harap, cinta, tawakkal, bernadzar, dll.

5. Bersemangat dan bersungguh-sungguh menyatukan jama’ah kaum muslimin di atas Al Qur’an dan As Sunnah menurut pemahaman Salaf (pemahaman para sahabat).

6. Menghidupkan Sunnah-Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam ibadah, akhlak, dan semua sisi kehidupan sehingga mereka menjadi orang-orang yang terasing di tengah kaumnya (maksudnya, di tengah masyarakat yang rusak).

Sebagaiman nabi bersabda “Islam pada awalnya datang dalam keadaan asing, dan kelak akan kembali asing sebagaimana awalnya. Maka beruntunglah bagi Al Ghurabaa tersebut (orang-orang asing).”

7. Tidak fanatik melainkan kepada firman Allah dan sabda RasulNya salallahu’alaihi wa sallam yang tidaklah berkata dari hawa nafsunya.

Oleh sebab itu, para ulama salaf mengatakan : “Apabila ada hadits yang shahih , maka itulah madzabku.”

8. Melakukan amar ma’ruf nahi mungkar.

9. Membantah setiap orang yang menyelisihi manhaj salaf, baik muslim maupun kafir, setinggi dan serendah apapun kedudukannya, baik menyelisihinya itu dengan sengaja maupun karena kesalahan, dan hal itu tidak termasuk menjelekkan dan menganggap rendah, tetapi termasuk nasihat dan kasih saying terhadap orang yang dibantah.

10. Taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah dengan cara menta’ati orang yang telah dijadikan Allah Ta’ala sebagai ulil amri (pemimpin) bagi kita, tidak memberontak kepada mereka, mendo’akan mereka dengan kebaikan dan keselamatan, dengan tetap menasihatinya dengan jujur.

11. Hikmah dalam berdakwah mengajak manusia kepada jalan Allah

12. Memberikan perhatian yang besar terhadap ilmu yang bersumber dari Al-Qur’an, As Sunnah, dan atsar Salaful Ummah (ummat-ummat terdahulu dari kalangan sahabat, tabi’in), serta mengamalkannya, dan meyakininya bahwa ummat ini tidak akan menjadi baik , kecuali jika mereka memperhatikan ilmu dan amal shalih.

13. Bersemengat melakukan Tashfiyah (pemurnian) dalam setiap bidang agama dan Tabrbiyah (pendidikan) generasi di atas ajaran Islam yang telah dibersihkan tersebut.

KESIMPULAN

Dari beberapa penjelasan yang kami paparkan di atas, kami harap anda sudah tahu siapakah mereka itu sebenarnya. Benarkah dengan apa semua yang sudah dituduhkan oleh orang selama ini. Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa kami dan dosa kita semua.

Bahwasannya seorang SALAFI itu adalah :

“Barangsiapa yang pendapatnya sesuai dengan Al Qur’an dan As Sunnah mengenai ‘aqidah, hukum dan cabang-cabangnya (suluknya) menurut pemahaman Salaf (yang dikatakan Salaf : Para Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in ), maka ia disebut Salafi meskipun tempatnya jauh dan berbeda masanya.”

Sebaliknya

“Barangsiapa pendapatnya menyalahi Al Qur’an dan As Sunnah, maka ia buka seorang SALAFI, meskipun ia hidup di zamannya Nabi, atau di zaman Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in”

(sumber: Al Mufassiruun bainat Ta’will wal Itsbaat fii Aayatish Shifat, dan Al Wajizz fii ‘Aqiidah Salafush Shalih)

Dan SALAF bukan KELOMPOK atau GOLONGAN seperti yang difahami oleh sebagian orang, tetapi merupakan MANHAJ (sistem hidup dalam bera’qidah, beribadah, berhukum, berakhlak, dan yang lainnya) yang wajib diikuti oleh setiap muslim. Jadi pengertian Salaf dinisbatkan kepada orang yang menjaga keselamatan ‘aqidah dan manhaj menurut apa yang dilaksanakan oleh Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam dan para Sahabat sebelum terjadinya perselisihan dan perpecahan.

Istilah salaf tidaklah menunjukkan kepada suatu golongan mapun kelompok, tetapi

SALAFI adalah orang-orang yang berpegang kepada Al Qur’an dan As Sunnah menurut pemahaman yang benar, yaitu pemahaman para sahabat Nabi radhiallahu’anhum.

(Sumber: Mauqif Ahlus Sunnah wal Jama’ah min Ahlil Ahwa’ wal Bida’, karya Syeikh Dr.Ibrahim Ar Ruhaily)


NASEHAT PENUTUP

Maka penulis memberikan nasehat untuk dua golongan:

Untuk Golongan Pertama ; Untuk mereka yang bermanhaj dengan manhaj salafush shaleh, baik dalam ‘aqidah, ibadah, dan akhlak, kita katakan Sabar dan teguhlah dan bersungguh-sungguhlah dalam berpeganag teguh ‘aqidah dan manhaj ini -manhaj nubuwwah- serta mengambil dengan kuat, tidak lemah, tidak merasa hina, dan tidak patah semangat di hadapan musuh-musuh serta tidak melepaskan diri dari pondasi dan tiang-tiangnya sampai tegaknya daulah Islam.

Pengemban dakwah salafiyyah ini mereka memiliki ciri khas dan dikenal dengan Atsariyyun, dikenal bahwa mereka adakah Salafiyyun, siapa saja mereka di atas manhaj ini maka mereka termasuk golongan mereka.

Ketahuilah… bahwa diantara yang dapat menghibur diri kalian bahwa golongan yang selamat itu hanya satu, sedang 72 golongan adalah musuhnya. Kebenaran itu sedikit pengikutnya, sedangkan kejelekan itu banyak pengikutnya. Banyaknya pengikut bukanlah sebagi tolak ukur, tetapi menurut Ahlussunnah wal Jama’ah, yaitu Salafiyyah -semoga Allah Ta’ala memasukkan kami dan kalian ke dalamnya- tolak ukur kebenaran itu adalah ITTIBA’ (mengikuti sunnah) dan menjauhkan hal-hal baru dalam agama.

Untuk golongan kedua ; untuk mereka yang telah masuk dan terjebak dalam jaring-jaring hizbiyyah dan kelompok-kelompok bid’ah dengan sebab pemalsuan dan kedustaan. Maka penulis katakan pada mereka:

Sesungguhnya kami tidak ragu -insya Allah- akan baiknya niat kalian, yaitu kecintaan kalian terhadap kebaikan, rasa cemburu kalian terhadap Sunnah, dan pembelaan kalian terhadap Islam. Akan tetapi menolong agama Allah bukan dengan cara seperti ini, menolong agama Allah hanyalah dengan mengikuti jalan para Sahabat, para Salafush Shalih yang mulia. Saudaraku! Bertaqwalah kalian kepada Allah, bertaqwalah kalian kepada Allah, dan hendaklah kalian berpegang teguh dengan manhaj sahabat (yaitu manhaj salaf), pegang dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah kelompok-kelompok bid’ah ini yang hanya melahirkan kejelekkan yang besar dan permusuhan serta perpecahan di kaum muslimin. Jauhilah kelompok-kelompok ini, jauhilah firqoh-firqoh ini, karena merekalah yang telah mengotak-ngotakan kaum muslimin, antara satu kelompok merasa berbangga dengan kelompok lainnya, dan memusuhi orang-oarang yang bukan dari kelompoknya.

Saudaraku bertaqwalah kalian kepada Allah ! bertaqwalah kalian kepada Allah ! dan hendaklah kalian pegang teguh dengan manhaj salaf, pegang dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah kelompok-kelompok dalam Islam, jauhilah oleh kalian firqoh-firqoh dalam Islam, karena merekalah yang telah mengotak-ngotakan umat Islam, mereka sudah memecah belah kaum muslimin, dan mereka berbangga atas kelompoknya satu sama lain, dan mereka tegakkan Al Wara’ dan Al Bara di atas kepentingan kelompok mereka. Mereka akan cintai orang yang satu kelompok dengan mereka lalu mereka hinakan orang-orang yang menyelisihi mereka..

Kenalilah kedudukan dan kehormatan manhaj ini, dan kenalilah hak para da’I nya. Sebab tidaklah ada satu ayat dalam Kitabullah dan hadits Shahih dari Nabi shalallhu’alaihi wa sallam yang pada keduanya terdapat isyarat beruapa pujian terhapad ahli ilmu, melainkan yang dimaksud itu adalah para da’I manhaj salaf karena mereka menyeru dengan kebenaran yang ada pada Al Qur’an dan As Sunnah menurut pemahaman Salaful Ummah.

Serta mohonlah taufiq pada Allah Ta’ala agar Dia memberikan taufiq kepada kalian untuk mengikuti jalan mereka. Sebagaimana Allah berfirman, yang artinya:

“Dan sungguh, inilah jalanku yang lurus, maka ikutilah. Jangan kamu ikuti jalan-jalan yang lain yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalanNya. Demikianlah Dia memerintahkan agar kamu bertaqwa” (Al An’am 153)

Ya, demikianlah apa yang saya aku tulis yang aku ambil dari buku atau kitab rujukan. Kita memohon kepada Allah Ta’ala agar kita ditunjuki di atas Islam dan Sunnah mengikuti manhaj Salafush Shalih dan istiqomah dalam keadaan menTauhidkan Allah Ta’ala, melaksanakan Sunnah Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam dan menjauhkan segala bentuk kesyirikan dan bid’ah dan diberikan taufiq oleh Allah untuk selalu melaksanakan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Mudah-mudahan Allah Ta’ala menjadikan kita golongan yang disebutkan dalam hadits yaitu At Thaifah Al Manshurah, yaitu golongan yang akan ditolong oleh Allah kelak pada hari kiamat dan tentunya akan kita raih dengan mengikuti jejak para Sahabat radhianllahu’anhum dan mudah-mudahan Allah megumpulkan kita di sorganya bersama Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiallahu’anhum. Amiin.

Wabillahi Taufiq

baca juga :

Mengenal Manhaj Salaf

Menjadi Salafi, Mengapa Tidak? | DAKWAH TAUHID

Apakah Salafi Termasuk Aliran Sesat? | DAKWAH TAUHID

Disempurnakan di Pariaman

24 Oktober 2011

Musim haji Bersemi





One Comment to “Siapakah mereka itu Sebenarnya ??”

  1.   marisa | October 25th, 2011 at 8:42 am     

    assalam, terima kasih atas ilmunya, sekarang saya jadi mengetahui siapa yang disebut salafi dan siapa yang bukan salafi.

Leave a Comment