Hari Hari mu adalah Umur mu..

العلماء هم ضالتي في كل بلدة وهم بغيتي ووجدت صلاح قلبي في مجالسة العلماء // Orang-orang yang berilmu agama adalah orang yang kucari di setiap tempat. Mereka adalah tujuan yang selalu kucari. Dan aku menemukan keshalihan hatiku di dalam bergaul dengan mereka. (حلية الأولياء وطبقات الأصفياء , IV/85 )

Pada dasarnya, kami bukanlah orang yang menginginkan perselisihan. Dan tentunya, anda pun juga tidak menginginkannya. Karena persatuan adalah hal yang terpuji sedangkan perselisihan adalah hal yang tercela.

Akan tetapi, sudah menjadi sunnatullah. Sudah menjadi ketentuan Allah yang akan berjalan di muka bumi ini. Bahwasanya ummat ini akan senantiasa berselisih. Baik yang terjadi di kalangan ulama, di kalangan ahli ilmu, di kalangan raja-raja, di kalangan penguasa, maupun di kalangan para penuntut ilmu.

Sebagaimana telah sampai khabar kepada kita, di dalam sebuah hadits yang sangat agung, yang diriwayatkan oleh Ashabus Sunnan, diantaranya Abu Dawud, Ibnu Majah dan lain-lainnya, dari seorang sahabat yang bernama Abu Najih Irbadh bin Syariah, bahwasanya Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah nasehat yang dikenal dengan nasehat perpisahan pada hajjatul wada’. Beliau shalallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah Ta’ala, mendengar dan ta’at meskipun yang memimpin kalian itu adalah seorang budah Habsyah. Barang siapa yang hidup sepeninggalku nanti, niscaya kalian akan melihat perselisihan yang sangat banyak.” Lalu Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam memberikan solusi untuk keluar dari perselisihan tersebut, dengan melanjutkan sabdanya, “Maka wajib bagi kalian untuk berpegang dengan sunnahku dan sunnah khulafur rasyidin yang telah diberi petunjuk, peganglah ia erat-erat dan gigitlah dengan gigi geraham kalian.” (HR. Abu Dawud, At Tirmidzi, Hadits Hasan Shahih, hadits ini no.28 di Kitab Hadits Arba’in An Nawawi).

Maka, saudaraku seiman…

Barangsiapa yang bersandar kepada nash-nash syar’I dan benar dalam penyandarannya sekalipun pendapat mereka menyelisihi kami, maka wajib atas kami untuk memuliakannya dan menghormati pendapatnya, karena pada hakikatnya mereka berada di atas al haq, mereka adalah bagian dari kami dan kami adalah bagian dari mereka.

Namun sebaliknya,

Barangsiapa yang bersandar kepada hawa nafsu, atau bersandar kepada taklid buta. Maka ketahuilah, mereka ini telah keluar dari jalan Rasulullah shalallahu’alaihi wa salllam dan atsar para sahabat.

Berkata Imam Malik rahimahullah, “Setiap orang pendapatnya bisa diterima dan bisa ditolak, kecuali pendapatnya penghuni kubur ini (maksudnya: Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam)”.

Wabillahi taufiq,

Pariaman, 10 Dhulhijjah 1432 H

Ba’da Shalat I’edul Adha





Leave a Comment