Hari Hari mu adalah Umur mu..

العلماء هم ضالتي في كل بلدة وهم بغيتي ووجدت صلاح قلبي في مجالسة العلماء // Orang-orang yang berilmu agama adalah orang yang kucari di setiap tempat. Mereka adalah tujuan yang selalu kucari. Dan aku menemukan keshalihan hatiku di dalam bergaul dengan mereka. (حلية الأولياء وطبقات الأصفياء , IV/85 )

SATUKAN TERLEBIH DAHULU VISI DAN MISI SEBELUM ENGKAU MENIKAH DENGANNYA

Fyi, aku hendak menikah dengannya bukan semata-semata karena aku mencintainya, selain itu dikarenakan aku ingin menyelamatkan akidahnya dan manhajnya untuk bersama-sama denganku berada di atas manhaj salaf. Aku hendak mengkonversi seorang akhwat tarbiyah menjadi akhwat ahlus sunnah [2].
Abu Harun As Salafy

Tatkala sudah tumbuh azzamku untuk menikah, aku mulai mencari-cari dengan siapa aku hendak menikah. Beragam nama sudah muncul di benak, namun hatiku tertambat dengan seorang akhwat aktivis dakwah.

Aku mengenalnya karena ia satu kampus denganku. Kami sama-sama aktifis kampus. Aku sendiri semasa kuliah aktif di KAMMI, LDK, dan juga internal kampus seperti MASIKA ICMI. Adapun akhwat tersebut adalah partnerku di LDK dan KAMMI.

Ketika aku hendak menikah Alhamdulillah aku sudah berada di atas manhaj salaf, adapun ia masih aktif di harokah. Akupun menuliskan surat untuknya by email ttg keinginanku untuk menikah dengannya.

Tidak berapa lama kemudian aku mendapatkan jawaban via email, bahwa ia menghargai kecintaanku kepadanya dan ia menolak menikah denganku dengan alasan beda wajihah dakwah. Terjadi reply email berulang kali dengannya dan sembari aku meyakinkan bahwa manhaj salaf adalah manhaj yang terbaik dan aku yakin ia bisa menerima manhaj salaf. Namun ia tetap tidak ingin menikah dengan ikhwan Salafy. Ia melihat bahwa aku sudah berubah dan aku bukanlah seperti yang dulu ia kenal.

Laa ba’sa. Aku menghargai keputusannya karena toh aku yakin bahwa Allah telah mentakdirkan jodoh untukku sesuai dengan kehendak-Nya [1].

Asy Syaikh Yahya Al Hajuri Hafizhahullahu telah bersyair:

ما أريد أن يحبني حزبيون أريد أن يجبني الله ويحبني السنيون الصالحون الذي محبتهم على الصواب

Aku tidak ingin dicintai oleh hizbiyyun, aku ingin dicintai oleh Allah Ta’ala dan sunniy yang shalih yang kecintaan mereka itu berdasarkan kebenaran.

Fyi, aku hendak menikah dengannya bukan semata-semata karena aku mencintainya, selain itu dikarenakan aku ingin menyelamatkan akidahnya dan manhajnya untuk bersama-sama denganku berada di atas manhaj salaf. Aku hendak mengkonversi seorang akhwat tarbiyah menjadi akhwat salafiyah [2].

” http://almanhaj.or.id/content/1653/slash/0

” http://nasihatonline.wordpress.com/2010/09/24/fatwa-fatwa-ulama-ahlus-sunnah-tentang-kelompok-kelompok-islam-kontemporer/

Jangan sekali-kali engkau menikah hanya karena perasaan cinta, tapi hendaklah dibangun di atas satu mabda’ (landsan), satu fikrah, satu visi dan misi, sehingga mindset suami istri sudah sejalan dalam satu hati [3].

Karena ditolak aktifis akhwat tadi, akupun beralih ke akhwat lainnya dan qadarullah sampailah biodata akhwat yang rajin liqo (akhwat PKS juga), tapi hendak bertransformasi menuju manhaj salaf. Akupun ta’aruf dengannya. Aku katakan kepadanya:

“Aku adalah seorang Salafy, dan tujuanku adalah hendak menjadikan rumah tangga di atas Al Quran dan As Sunnah. Maukah engkau berjalan bersamaku di atas manhaj salaf ini? karena sesungguhnya manhaj salaf adalah kebenaran, engkau ndak liqo lagi, ndak mabit lagi, dan bersamaku untuk menghadri kajian rutin dan daurah-daurah. Kita menyadari bahwa kita dilahirkan dalam keluarga yang belum mengenal manhaj salaf sebelumnya. Orang tua kita adalah awamunnas (orang awam) dan Alhamdulillah kita mendapatkan hidayah ini. Untuk itu marilah kita memulai membuka gerbang untuk anak cucu kita berada di atas aqidah yang benar dan di atas manhaj yang benar, yaitu generasi yang paham Al Quran dan As Sunnah di atas pemahaman Salafus Shalih.”

Alhamdulillah…. akhwat tersebut menganggukkan kepada dan bersedia. Demikianlah hendaknya di awal pertemuan diucapkan visi dan misi dalam rumah tangga, ikrar, dan menyatukan mindset di atas mabda’ yang sesuai dengan Al Quran dan As Sunnah.

Sungguh, aku sangat mencintaiku istriku ini karena ia adalah wanita yang penurut kepada suaminya dan melayani kebutuhan suaminya, selalu bersama suaminya baik suka maupun duka. Aku bersyukur menikah dengannya, setiap saat ia menjadi penyejuk mataku dan ia adalah pendidik yang baik bagi anakku. Sebagaimana dalam sebuah syair dikatakan:

لَوْ كَانَ حُبُّكَ صَادِقاً لَأَطَعْتَهُ
إِنَّ المُحِبَّ لِمَنْ يُحِبُّ مُطِيْعٌ

Sekiranya cintamu itu benar niscaya engkau akan mentaatinya
Karena orang yang mencintai tentu akan mentaati orang yang dicintainya

Rumah tangga yang bahagia adalah rumah tangga As Salafiyun, yang dibangun di atas satu visi dan misi. Dan yang dimaukan di sini adalah visi dan misi yang diharapkan oleh penentu syariat, yang sejalan dengan Al Quran dan As Sunnah [4]

Wallahu a’lam.

[Ini adalah tulisan ke-2 yang dipersembahkan untuk Ian abuhanzhalah dalam event : Saya menulis tentang nikah…]

*Lihat bagaimana gundah gulananya seorang hizbiy ikhwaniy tatkala melihat fenomena banyaknya akhwat tarbiyah yang menikah dengan ikhwan Salafi. -> http://beritapks.com/mengapa-kalian-rampas-akhwatnya-jika-benci-manhajnya/
*Baca juga, penjelasan tentang Hukum Nikah dengan Akhwat Tarbiyah : http://ustadzaris.com/hukum-nikah-dengan-akhwat-tarbiyah




Leave a Comment