Hari Hari mu adalah Umur mu..

العلماء هم ضالتي في كل بلدة وهم بغيتي ووجدت صلاح قلبي في مجالسة العلماء // Orang-orang yang berilmu agama adalah orang yang kucari di setiap tempat. Mereka adalah tujuan yang selalu kucari. Dan aku menemukan keshalihan hatiku di dalam bergaul dengan mereka. (حلية الأولياء وطبقات الأصفياء , IV/85 )

Kumpulan Kisah Kehidupan Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin


Sabar dalam Berdakwah

Asy-Syaikh Hamad bin ‘Abdillah Al-Jutaili berkata:
Saya mempunyai beberapa kenangan tentang Asy-Syaikh Al-Utsaimin, yaitu selama saya belajar kepada beliau selama 30 tahun di Al-Jami’ Al-Kabir, Unaizah. Yaitu tentang kesabaran beliau, dimana pada awal perjalanan mengajar beliau hanya ada saya dan beberapa pelajar lain, namun beliau senantiasa bersabar sampai akhirnya kajian beliau berkembang dan diikuti oleh ribuan pelajar. (Safahat Mushriqah min Hayat Al-Imam Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, hal. 80)

Diingatkan oleh Muridnya

Dikisahkan, pada sebuah khutbah Jum’at, Asy-Syaikh Al-’Utsaimin menjelaskan tentang keutamaan surat Al-Fatihah sebelum tidur dan menganjurkan setiap orang untuk membacanya. Setelah selesai khutbah, salah seorang pelajar mengingatkan Asy-Syaikh Al-’Utsaimin, “Wahai Syaikh, yang anda maksud mungkin tadi keutamaan ayat Kursi.”

Asy-Syaikh Al-’Utsaimin kemudian menyadari bahwa dirinya secara tidak sengaja telah melakukan kesalahan. Maka beliau pun segera meralat kesalahannya sebelum para jamaah pergi, mengingatkan mereka bahwa beliau telah berbuat salah dan yang benar adalah keutamaan membaca ayat Kursi sebelum tidur. (Safahat Mushriqah min Hayat Al-Imam Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, hal. 43)

Menuntut Ilmu Sejak Anak-anak

Asy-Syaikh ‘Ashim bin ‘Abdil Mun’im Al-Mari menceritakan:
Sifat yang paling menonjol dari Asy-Syaikh Al-’Utsaimin adalah ketekunan beliau dalam menuntut ilmu. Beberapa saudara Asy-Syaikh Abdullah bin Muhammad Al-Mani’ rahimahullah, Qadhi Unaizah pada tahun 1360 H (1936) menyebutkan bahwa Asy-Syaikh Al-’Utsaimin selalu datang pagi-pagi ke rumah Asy-Syaikh Abdullah bin Muhammad sambil membawa kertas dan buku. Asy-Syaikh Al-’Utsaimin kemudian mengetuk pintu, mengucapkan salam dan meminta ijin untuk masuk ke perpustakaan. Beliau biasa ada di perpustakaan itu sampai menjelang Dzuhur. Ini dilakukan ketika beliau masih anak-anak (belum mencapai usia baligh). (Ad-Durr Ats-Tsamin fi Tarjamti Faqihil Ummah Al-’Allammah bin ‘Utsaimin, hal. 24)

“Istirahat adalah dengan tetap memberikan pelayanan kepada umat”

Asy-Syaikh Badr bin Nadhir Al-Masyari menceritakan:
Meskipun dalam keadaan kesehatannya kurang baik, Asy-Syaikh Al-’Utsaimin tetap bersemangat untuk memberikan khutbah Jum’at di Al-Jami’ Al-Kabir, memimpin doa, dan menemui tamu-tamu untuk menjawab pertanyaan ataupun memberikan penjelasan. Semua ini memang kemauan dari beliau sendiri, dimana pada suatu hari dikatakan kepada beliau, “Wahai Syaikh, beristirahatlah.” Maka beliau menjawab, “Istirahat adalah dengan tetap memberikan pelayanan kepada umat.” (Ad-Durr Ats-Tsamin fi Tarjamti Faqihil Ummah Al-’Allammah bin ‘Utsaimin, hal. 296)

Prihatin dengan Krisis yang Terjadi pada Umat

Asy-Syaikh Badr bin Nadhir Al-Masyaari menceritakan:
Salah seorang murid Asy-Syaikh Al-’Utsaimin bercerita kepada saya bahwa beliau pernah mengalami tidur dalam waktu sedikit ketika krisis yang besar melanda umat, khususnya pada saat Perang Teluk dan tragedi pembantaian muslimi di Bosnia dan Chechnya. Waktu itu beliau sering berdoa di waktu malam kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar memberi kemenangan bagi kaum muslimin dalam melawan musuh-musuhnya, menguatkan Islam, dan menghancurkan musuh-musuh Islam. Beliau pun berdoa untuk keselamatan kaum muslimin secara keseluruhan dan memberi mereka dorongan agar tetap teguh dalam menghadapi berbagai kesulitan menghadapi musuh-musuh Isam. (Ad-Durr Ats-Tsamin fi Tarjamti Faqihil Ummah Al-’Allammah bin ‘Utsaimin, hal. 300)

Menghapal Al-Qur’an dalam Waktu Enam Bulan

Asy-Syaikh Ibrahim bin Hamad Al-Jutaili, seseorang yang telah mengenal Asy-Syaikh Al-’Utsaimin selama 45 tahun dan telah belajar kepada beliau selama 20 tahun bercerita: Beliau mampu menghapal Al-Qur’an dalam waktu 6 bulan di bawah bimbingan gurunya Asy-Syaikh Ali bin Abdullah Asy-Syuhaitan. (Ad-Durr Ats-Tsamin fi Tarjamti Faqihil Ummah Al-’Allammah bin ‘Utsaimin, hal. 23)
Catatan: Berdasar cerita ini maka menjadi jelas bahwa Asy-Syaikh Al-’Utsaimin tidak menghapal Al-Qur’an di bawah bimbingan kakeknya, Abdurrahman bin Sulaiman Al-Damigh, sebagaimana yang banyak diketahui. Kepada kakeknya itu beliau semata hanya belajar membaca Al-Qur’an, sementara untuk menghapalnya beliau dibimbing oleh Asy-Syaikh Asy-Syuhaitan.

Tetap Shalat Malam Meski Kelelahan

Muhammad bin ‘Abdil Jawwad As-Sawi mengisahkan:
Suatu ketika Asy-Syaikh Al-’Utsaimin diundang oleh suatu lembaga amal di Jeddah. Acara yang beliau hadiri itu ternyata sangat panjang, sampai mendekati jam satu malam dimana kebiasaan beliau adalah beristirahat pada waktu demikian. Terlihat sekali beliau mengalami kelelahan dan mengantuk. Kami akhirnya pulang dan mengantar Asy-Syaikh Al-’Utsaimin ke rumah, sementara kami sudah tidak bisa lagi menahan kantuk.

Ketika hari masih malam, yaitu sekitar jam 03.30, setelah kami tertidur selama kurang lebih dua jam, saya mendengar suara Asy-Syaikh Al-’Utsaimin yang sedang sholat dalam keadaan beliau baru saja kelelahan dan kurang tidur, namun beliau tetap menyempatkan untuk melakukan shalat malam. (Safahat Mushriqah min Hayat Al-Imam Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, hal. 73)

Tidak Kenal dengan Asy-Syaikh Al-’Utsaimin

Abdullah bin ‘Ali Al-Matawwu’ menceritakan bahwa ia pernah menemani perjalanan Asy-Syaikh Al-’Utsaimin dari Unaizah menuju Al-Bada’i yang jaraknya sekitar 15 km untuk memenuhi undangan acara makan siang. Setelah acara selesai, dalam perjalanan pulang rombongan Asy-Syaikh Al-’Utsaimin menjumpai seorang laki-laki yang memiliki jenggot berwarna merah dan dengan pandangan bersahabat ia melambaikan tangan ke mobil kami. Asy-Syaikh Al-’Utsaimin berkata, “Pelan-pelan, kita akan ajak dia bersama kita.”

Asy-Syaikh Al-’Utsaimin kemudian berkata, “Hendak pergi kemana anda?” Laki-laki itu menjawab, “Bolehkah saya menumpang sampai ke Unaizah?” Asy-Syaikh Al-’Utsaimin berkata, “Boleh, tapi dengan dua syarat, pertama anda tidak boleh merokok dan kedua anda harus selalu mengingat Allah.” Ia menjawab, “Saya adalah laki-laki yang tidak merokok. Saya tadinya menumpang kepada seorang laki-laki yang merokok, maka saya minta turun di sini. Sedangkan untuk mengingat Allah, maka tidaklah ada seorang muslim pun kecuali ia pasti mengingat Allah.” Maka laki-laki itu pun masuk ke dalam mobil.

Selama perjalanan laki-laki tersebut sama sekali tidak menyadari bahwa dirinya sedang bersama rombongan Asy-Syaikh Al-’Utsaimin. Ketika sampai di Unaizah, laki-laki itu berkata, “Tolong tunjukkan saya di mana rumah Asy-Syaikh Al-’Utsaimin, saya memiliki beberapa permasalahan yang ingin saya tanyakan pada beliau.”

Asy-Syaikh Al-’Utsaimin berkata, “Mengapa anda tidak bertanya kepada beliau saat di Bada’i?” Ia menjawab, “Saya tidak bertemu dengan beliau.” Asy-Syaikh Al-’Utsaimin berkata, “Saya melihat anda berbicara dan memberi salam kepada beliau.” Laki-laki itu berkata, “Anda pasti bercanda.” Asy-Syaikh Al-’Utsaimin tersenyum dan berkata, “Kerjakanlah shalat Ashar di masjid jami’ Unaizah, maka anda akan bertemu dengannya.” Orang itu berlalu tanpa mengetahui bahwa ia baru saja berbicara dengan Asy-Syaikh Al-’Utsaimin.

Usai shalat Ashar, laki-laki itu melihat seorang Syaikh di arah depan usai mengimami shalat. Laki-laki itu bertanya tentang Asy-Syaikh tersebut dan diberi tahu bahwa beliau adalah Asy-Syaikh Al-’Utsaimin. Maka laki-laki itupun mendekati Asy-Syaikh Al-’Utsaimin dan meminta maaf karena tidak mengenali beliau sebelumnya. Kemudian ia mengajukan beberapa pertanyaan dan Asy-Syaikh pun menjawabnya. Laki-laki itu sangat senang dan mengucapkan terima kasih kepada Asy-Syaikh Al-’Utsaimin. (Al-Jami’ li-Hayat Al-’Allammah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, hal. 38)

“Tahukah kamu siapa Asy-Syaikh itu?”

Ketika Asy-Syaikh Al-’Utsaimin pulang dari Masjidil Haram usai shalat menuju hotel, beliau menjumpai sekumpulan anak muda sedang bermain sepak bola dalam keadaan mereka belum sholat. Maka beliau pun menghentikan permainan sepak bola itu, memberi nasehat kepada mereka, dan mengingatkan mereka kepada Allah dalam keadaan mereka tidak tahu siapa beliau. Asy-Syaikh Al-’Utsaimin melarang mereka untuk meneruskan permainannya sebelum mereka sholat. Salah seorang dari mereka mendekati beliau dan dengan nada tinggi ia memaki-maki. Asy-Syaikh Al-’Utsaimin membalas kata-kata anak muda itu dengan penuh rasa cinta dan keramahan, “Engkau sebaiknya ikut saya ke hotel, kita bisa bicara di sana.”

Waktu itu Asy-Syaikh Al-’Utsaimin bersama beberapa pelajar dan mereka mendorong anak muda itu untuk menuruti Asy-Syaikh Al-’Utsaimin ikut bersama beliau. Maka ia pun ikut bersama Asy-Syaikh Al-’Utsaimin ke hotel. Beberapa saat kemudian beliau meninggalkan ruangan untuk suatu keperluan. Para pelajar yang bersama Asy-Syaikh Al-’Utsaimin bertanya kepada anak muda, “Tahukah kamu siapa Syaikh itu?” Ia menjawab, “Saya tidak tahu.” Mereka berkata, “Beliau adalah Asy-Syaikh Al-’Utsaimin.” Mendengar jawaban itu, seketika wajah anak muda itu berubah. Ketika Asy-Syaikh Al-’Utsaimin datang, anak muda itu menangis dan mencium kening beliau. Setelah peristiwa itu ia mengalami perubahan dan menjadi anak muda yang shaleh. (Al-Jami’ li-Hayat Al-’Allammah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, hal. 41)

“…saya akan keluar untuk mendorong.”

Suatu ketika Asy-Syaikh Al-Utsaimin naik sebuah mobil tua milik salah seorang temannya yang mudah mogok. Dalam perjalanan mobil itupun mogok dan Asy-Syaikh Al-’Utsaimin berkata kepada sopir mobil, “Tinggallah kamu di tempatmu, saya akan keluar untuk mendorong.”

Asy-Syaikh Al-’Utsaimin keluar dari mobil dan mendorong seorang diri sampai mobil itu berjalan lagi. Kejadian ini merupakan gambaran betapa beliau rahimahullah sangat rendah hati. (Al-Jami’ li-Hayat Al-’Allammah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, hal. 42)

“Subhanallah, beliau yang sudah tua lebih memilih berdiri untuk shalat.”
Seorang murid Asy-Syaikh Al-’Utsaimin asal Kuwait yang telah belajar selama lima tahun dan dikenal sebagai murid yang sangat rajin menceritakan: Saya pernah menemani Asy-Syaikh Al-’Utsaimin dalam perjalanan dari Unaizah menuju Riyadh dan kemudian dilanjutkan ke Mekkah untuk umrah. Usai menunaikan umrah, semua anggota rombongan minta ijin kepada Asy-Syaikh Al-’Utsaimin untuk istirahat karena kelelahan setelah melakukan perjalanan panjang yang dilanjutkan dengan umrah pada hari yang sama.

Salah seorang anggota rombongan bernama Asy-Syaikh Hamad menceritakan bahwa dirinya terbangun di tengah malam dan mendapati Asy-Syaikh Al-’Utsaimin sedang shalat. Ia berkata, “Subhanallah, saya yang masih muda memilih tidur sementara beliau yang sudah tua lebih memilih berdiri untuk sholat.”

Maka ia pun bangkit untuk mengambil wudhu dan ikut shalat bersama Asy-Syaikh Al-’Utsaimin. Dia berusaha keras untuk melawan rasa kantuknya, namun akhirnya ia tidak bisa bertahan dan pergi tidur meninggalkan Asy-Syaikh Al-’Utsaimin shalat sendirian. (Al-Jami’ li-Hayat Al-’Allammah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, hal. 39)

“Asy-Syaikh Al-’Utsaimin, Asy-Syaikh Al-’Utsaimin, Asy-Syaikh Al-’Utsaimin…!”

Seorang anggota Pusat Dakwah dan Bimbingan kota Jeddah menuturkan bahwa selama musim haji tahun 1416 H, dia mendampingi Asy-Syaikh Al-’Utsaimin melakukan dakwah kepada para jamaah haji di Bandara King Abdul Aziz.

Serombongan jamaah haji dari Rusia datang dan Asy-Syaikh Al-’Utsaimin bermaksud hendak memberikan beberap patah kata pada mereka (berdakwah). Beliau menjelaskan bahwa nanti akan ada penerjemah yang akan menyampaikan perkataan beliau. Pimpinan jamaah haji itu mengatur anggotanya (untuk mendengarkan ceramah) tanpa ia mengetahui bahwa yang berceramah adalah Asy-Syaikh Al-’Utsaimin.

Setelah ceramah Asy-Syaikh Al-’Utsaimin selesai, pimpinan rombongan bertanya siapa orang yang baru berceramah tadi. Dia diberi tahu bahwa beliau adalah Asy-Syaikh Al-’Utsaimin. Seketika ia berlari menuju Asy-Syaikh Al-’Utsaimin dan mencium kening beliau sambil menangis. Dia kemudian mengambil mikrofon dan mengumumkan bahwa orang yang baru saja berceramah adalah Asy-Syaikh Al-’Utsaimin. Mendengar pengumuman itu para jamaah haji itu pun terkejut dan banyak yang histeris (karena sangat bahagia). Dalam keadaan itu kepala rombongan terus-menerus berseru, “Asy-Syaikh Al-’Utsaimin, Asy-Syaikh Al-’Utsaimin, Asy-Syaikh Al-’Utsaimin…!”
Para jamaah haji itu mendatangi Asy-Syaikh Al-’Utsaimin, memberi salam dan mencium kening beliau. Kepala rombongan berkata, “Ini adalah murid-murid anda wahai Syaikh. Mereka dulu mempelajari buku-buku anda di tempat persembunyian di bawah tanah ketika masa pemerintahan komunis.” (Al-Jami’ li-Hayat Al-’Allammah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, hal. 38)

“Kembalikan mobil itu kepada Pangeran…”

Abdullah bin Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin (putra beliau) berkisah:
Suatu ketika Pangeran Abdullah bin Abdul Aziz Alu Su’ud, gubernur Qashim, memberi hadiah kepada Asy-Syaikh Al-’Utsaimin sebuah mobil baru. Ketika pulang ke rumah, beliau melihat sebuah mobil diparkir di depan rumah dan beliau pun diberi tahu tentang mobil itu. Mobil itu tetap di luar rumah sampai lima hari tanpa dipakai oleh Asy-Syaikh Al-’Utsaimin. Beliau akhirnya berkata kepada putranya, Abdullah, “Kembalikan mobil itu kepada Pangeran dan ucapkan terima kasih atas kemurahan hatinya. Beritahu dia bahwa saya tidak membutuhkannya.”

Maka mobil itupun dikembalikan kepada Pangeran Abdullah, sementara Asy-Syaikh Al-’Utsaimin tetap mengendarai mobilnya yang sudah tua dan murah. Sampai meninggal beliau masih tetap memiliki mobil yang sama. (Al-Jami’ li-Hayat Al-’Allammah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, hal. 23)

“Sekarang ijinkan mereka pulang kepada keluarganya!”

Ihsan bin Muhammad Al-’Utaibi menceritakan:
Beberapa pemuda dari Yordania melakukan perjalanan dengan mobil untuk melakukan umroh. Sesampai di Khaibar mereka mengalami kecelakaan, yaitu mobil mereka menabrak lampu jalan. Polisi pun datang dan meminta kepada sopir untuk membayar ganti rugi kerusakan sebesar 21.000 Riyal (sekitar 3.500 Pound Sterling).
Baik sopir maupun para pemuda itu tidak mampu membayar denda sebesar itu. Maka polisi pun menyita paspor milik sopir sampai dia mampu membayar denda sepulang dari umrah.

Beberapa pelajar yang mengetahui kasus ini berinisiatif membantu mencari dana. Mereka berpikir jalan terbaik adalah dengan menyampaikan permasalahan ini kepada ulama. Maka salah seorang dari mereka mendatangi Asy-Syaikh Al-’Utsaimin di ruang beliau di Masjidil Haram, Mekkah, usai shalat Ashar. Setelah diberi tahu permasalahan yang terjadi, Asy-Syaikh Al-’Utsaimin berkata, “Datanglah besok, insya Allah semua akan beres.”

Namun para pelajar tidak datang pada keesokkan harinya karena mereka berpikir bahwa jumlah uang yang dibutuhkan sangat besar. Disamping itu, menurut pikiran mereka, Asy-Syaikh Al-’Utsaimin juga tidak kenal dengan mereka. Maka pelajar itu kembali ke pemuda dari Yordania yang mengalami kecelakaan dan menyatakan bahwa mereka telah berusaha membantu, setidaknya telah menyampaikan hal ini kepada Asy-Syaikh Al-’Utsaimin. Para pemuda itu berencana pulang ke Yordania namun mereka harus melewati pemeriksaan di Khaibar yang akan memeriksa paspor sopir. Mereka mengharap kemurahan hati petugas imigrasi (pemeriksa paspor) dan mereka mau melupakan kewajiban mereka untuk membayar denda.

Ketika mereka datang ke kantor, kepala kantor meminta mereka membayar penuh denda tersebut dan mereka tidak boleh pergi (sebelum membayar denda). Mereka boleh pergi tetapi tidak boleh bersama sopirnya. Para pemuda dan sopir menjadi khawatir. Apa yang harus mereka lakukan kini?

Mereka kemudian mendatangi pelajar yang telah menemui Asy-Syaikh Al-’Utsaimin dan berkata, “Mengapa anda tidak mendatangi beliau lagi? Apa yang beliau katakan?” Dia menjawab, “Beliau berkata: datanglah lagi besok.” Mereka bertanya, “Apakah engkau datang keesokan harinya?” Dia menjawab, “Tidak.” Mereka berkata, “Hubungi beliau lagi, semoga Allah memberi jalan kepada kami melalui beliau. Saat ini kami berada di tempat yang jauh dari keluarga di hari-hari terakhir bulan Ramadhan.”

Pelajar itu pun kembali mendatangi Asy-Syaikh Al-’Utsaimin. Pemuda itu kembali menerangkan permasalahan yang terjadi. Asy-Syaikh Al-’Utsaimin bertanya, “Apakah engkau berasal dari Yordania?” Ia menjawab, “Ya, wahai Syaikh.” Asy-Syaikh berkata, “Bukankah waktu itu saya sudah meminta engkau untuk datang esok harinya, tapi mengapa engkau tidak datang?” Ia menjawab, “Saya merasa malu, wahai Syaikh.”
Maka Asy-Syaikh Al-’Utsaimin berkata, “Sekarang mengapa engkau datang lagi? …di beberapa kejadian, jumlah uang yang kita butuhkan bisa terkumpul dalam satu hari.” Pelajar itu hampir tidak percaya mendengar hal itu. Ia merasa senang karena memiliki harapan baru. Ia berkata, “Sekarang apa yang harus kami kerjakan, wahai Syaikh?” Asy-Syaikh Al-’Utsaimin berkata, “Saya akan mentransfer uang ke bagian imigrasi dan mencoba meminta mereka agar memudahkah urusan kalian dan agar mereka mengijinkan kalian pulang ke keluarga kalian sebelum hari Raya Idul Fitri.”

Asy-Syaikh Al-’Utsaimin kemudian berbicara kepada kepala imigrasi, “Saya telah mengumpulkan uang (untuk membayar denda), beritahu saya nomor rekening anda supaya saya bisa mentransfernya. Kemudian ijinkan para pemuda dan sopirnya pulang ke keluarganya.”

Kepala imigrasi menjawab dengan nada tidak sopan, “Maaf Syaikh, kami minta supaya uang itu dalam bentuk cash, sehingga kami pun belum bisa mengijinkan mereka pergi.” Asy-Syaikh Al-’Utsaimin menjadi marah mendengar jawaban itu. Beliau berkata, “Saya katakan kepada anda, saya telah memiliki uang itu. Sekarang ijinkan mereka pulang kepada keluarganya.” Namun kepala imigrasi itu tetap menolak. Asy-Syaikh Al-’Utsaimin kemudian meletakkan gagang telepon.

Beberapa saat kemudian keadaan kantor imigrasi itu menjadi terbalik. Gubernur Madinah, Pangeran Abdul Majid, menelepon untuk menanyakan kepala imigrasi yang telah menolak permintaan Asy-Syaikh Al-’Utsaimin. Gubernur kemudian menjatuhi hukuman kepada kepala imigrasi karena telah bertindak tidak disiplin. Dalam keadaan ini, para pegawai di kantor itu mencoba memberi pembelaan kepada kepala imigrasi.

Para pemuda yang masih di kantor imigrasi merasakan adanya perubahan nada bicara yang terjadi pada para pegawai, dari tidak ramah menjadi sangat ramah. Gubernur telah memerintahkan mereka untuk mengijinkan para pemuda itu dan sopirnya pergi dan biaya perbaikan lampu akan ditanggung negara.

Tidak bisa digambarkan betapa gembiranya para pemuda itu. Mereka mengucapkan terima kasih kepada Asy-Syaikh Al-’Utsaimin atas bantuan dan pembelaannya. Mereka juga mengucapkan terima kasih kepada Gubernur Madinah yang memiliki rasa hormat kepada ulama dan menghargai posisi mereka.” (Al-Jami’ li-Hayat Al-’Allammah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, hal. 75)

“…siapa yang akan duluan?”

Abu Khalid Abdul Karim Al-Miqrin mengisahkan:
Ketika kami sedang merekam siaran khusus kajian dari radio (Nur ‘alad Darb) di rumah Asy-Syaikh Al-’Utsaimin, kami mendengar suara berisik dari orang yang sedang bekerja di dekat rumah beliau (tetangga). Sepertinya mereka sedang memperbaiki sesuatu, dimana suara yang mereka timbulkan mengganggu proses rekaman.

Asy-Syaikh Al-’Utsaimin kemudian mendatangi mereka untuk memberi tahu rekaman yang sedang dilakukan dan meminta mereka berhenti sebentar. Namun ketika beliau kembali dan kami siap merekam, beliau memandang ke sekeliling dan berkata, “Ya Abdul Karim, siapa yang akan duluan?” Aku menjawab, “Mereka saja, ya Syaikh.”

Maka Asy-Syaikh Al-’Utsaimin kembali menemui merekam. Dengan penuh keramahan dan khawatir melanggar hak mereka, beliau berkata, “Kami akan menunda rekaman kami beberapa waktu sampai kalian menyelesaikan pekerjaannya.” (Arba’ah ‘Ashar ‘am Ma’a Samahatil ‘Allammah Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, hal. 55)

Asy-Syaikh Al-’Utsaimin tidak suka penghormatan…

Abu Khalid Abdul Karim Al-Miqrin menceritakan:
Telah diketahui oleh banyak orang bahwa Asy-Syaikh Al-’Utsaimin adalah orang yang tidak senang dengan penghormatan, termasuk gelar atau jabatan tinggi. Beliau adalah anggota Lembaga Ulama Senior (Kibarul Ulama), namun beliau meminta saya agar tidak menyebutkan hal ini saat saya mengenalkan beliau dalam acara kajian di radio (Nur ‘alad Darb). Beliau minta saya cukup menyebutkan beliau sebagai imam dan khatib Masjid Al-Jami’ Al-Kabir, Unaizah dan guru di Fakultas Syariah dan Ushuluddin, Qashim. Maka saya pun memenuhi permintaan beliau sejak saya memandu acara ini sampai beliau meninggal dunia.

Beberapa orang yang senang kepada Asy-Syaikh Al-’Utsaimin bertanya, “Ya Syaikh Khalid, mengapa anda tidak menyebutkan Asy-Syaikh Al-’Utsaimin sebagai anggota Lembaga Ulama Senior?” Saya menjawab bahwa ini adalah permintaan dari beliau sendiri. (Arba’ah ‘Ashar ‘am Ma’a Samahatil ‘Allammah Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, hal. 34)

Kalimat Mulia dari Asy-Syaikh Al-’Utsaimin

Asy-Syaikh Badar ibn Nadhir Al-Masyari menceritakan:
Ketika baru pulang dari Amerika sehabis berobat, Asy-Syaikh Al-’Utsaimin ditanya tentang kesehatan beliau. Maka beliau menjawab dengan sebuah kalimat mulia, “Ketahuilah, sesungguhnya sehat dan sakit itu tidak akan terjadi lebih lama atau pun mendahului dari waktu yang ditentukan. Hidup saya dan anda telah ditulis sebelum Allah menciptakan surga dan neraka. Maka yakinilah hal ini, sebagaimana saya pun meyakininya.” (Safahat Mushriqah min Hayat Al-Imam Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, hal. 111)

“Anda Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz?!”

Ihsan ibn Muhammad Al-’Utaibi mengisahkan:
Sehabis shalat di Masjidil Haram, Asy-Syaikh Al-’Utsaimin ingin pergi ke suatu tempat. Maka beliau memanggil taksi dan pergi dengannya. Dalam perjalanan, sopir taksi ingin mengetahui siapa gerangan yang menjadi penumpangnya itu. Ia bertanya, “Siapakah anda wahai Syaikh?” Beliau menjawab, “Muhammad bin Utsaimin.”

Sopir taksi itu terkejut, “Asy-Syaikh Al-’Utsaimin?” Ia menganggap beliau berbohong karena tidak percaya ada seorang Syaikh mau naik taksi. Asy-Syaikh Al-’Utsaimin menjawab, “Ya, benar.” Sopir taksi memutar kepalanya untuk melihat wajah Asy-Syaikh Al-’Utsaimin.

Asy-Syaikh Al-’Utsaimin kemudian bertanya, “Lantas anda ini siapa, wahai saudaraku?” Ia menjawab, “Saya Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz!” Asy-Syaikh Al-’Utsaimin pun tersenyum mengulang pertanyaannya, “Anda Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz?” Sopir itu menjawab, “Ya, karena anda telah menyebut diri anda Asy-Syaikh Al-’Utsaimin!” Asy-Syaikh Al-’Utsaimin berkata, “Tapi Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz buta dan tidak bisa menyetir mobil.”

Sopir taksi itu akhirnya menyadari bahwa penumpang yang ada di belakangnya adalah benar-benar Asy-Syaikh Al-’Utsaimin. (Safahat Mushriqah min Hayat Al-Imam Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, hal. 79)

Mengajar Sambil Diperiksa Kesehatannya

Muhammad Rabi’ Sulaiman menceritakan:
Tahun 1420 H terjadi sebuah peristiwa yang dikenang, yaitu pada bulan Ramadhan ketika Asy-Syaikh Al-’Utsaimin sedang memberikan kajian rutinnya di Masjidil Haram, Mekkah.

Seorang dokter spesialis yang merawat beliau menasehati bahwa tubuh Asy-Syaikh Al-’Utsaimin perlu istirahat secara rutin tiap sore dan tidak boleh mengajar setelah shalat Tarawih. Dokter itu ingin memberikan transfusi darah dan beberapa pemeriksaan medis lain, namun Asy-Syaikh Al-’Utsaimin menjawab, “Kerjakan apa yang harus anda kerjakan sementara saya tetap mengajar.”

Maka sambil memberikan kajian, dokter itu memasukkan jarum ke tubuh Asy-Syaikh Al-’Utsaimin untuk melakukan transfusi darah, beberapa pemeriksaan kesehatan, mengecek suhu badan, dan denyut jantung.

Demikianlah, betapa tingginya keinginan Asy-Syaikh Al-’Utsaimin untuk menyebarkan ilmu dan mengajari manusia. Hal ini dilakukan sampai malam terakhir bulan Ramadhan sebelum beliau pergi dari Masjadil Haram. (Safahat Mushriqah min Hayat Al-Imam Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, hal. 24)

“Lalu untuk saya mana?”

Abu Khalid Abdul Karim Al-Miqrin menceritakan:
Saat sedang berada di studio rekaman untuk acara radio “Pertanyaan lewat Telepon”, seseorang bernama Sa’ad Khamis selalu berkata kepada Asy-Syaikh Al-’Utsaimin setiap selesai melakukan sesion rekaman, dengan perkataan, “Semoga Allah memberi balasan kepada anda dengan kebaikan wahai Syaikh dan semoga Allah merahmati kedua orang tua anda.”

Saat itu Asy-Syaikh Al-’Utsaimin berkata, “Amin, wahai Sa’ad. Lalu untuk saya mana?” Sa’ad berkata, “Semoga Allah merahmati kedua orang tua anda.” Asy-Syaikh pun berkata, “Amin. Dan untuk saya mana?”

Sa’ad akhirnya menyadari perkataan Asy-Syaikh Al-’Utsaimin, maka ia pun berkata, “Semoga Allah merahmati anda dan orang tua anda, dan semoga memberi balasan dengan yang lebih baik kepada anda.” Asy-Syaikh Al-’Utsaimin tersenyum dan kemudian tertawa. Kami pun akhirnya tertawa bersama. (Arba’ah ‘Ashar ‘am Ma’a Samahatil ‘Allammah Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, hal. 63)

Asy-Syaikh Al-’Utsaimin Menjahit Sendiri Pakaiannya

Diceritakan oleh seorang murid beliau bahwa suatu ketika ia mengunjungi Asy-Syaikh Al-’Utsaimin di Mekkah. Saat itu sedang musim haji dan beliau berada di dalam penginapannya. Ia jumpai beliau sedang menjahit jubahnya. (Ibn ‘Utsaimin, Al-Imam Az-Zahid, hal. 163)

Kesederhanaan Asy-Syaikh Al-’Utsaimin

Asy-Syaikh Al-’Utsaimin adalah seseorang yang memiliki sifat sederhana dan rendah hati. Beliau tidak suka tidur di atas kasur ataupun di alas yang empuk, namun beliau biasa tidur di lantai atau di atas tikar dari ijuk (jerami) yang akan memberikan bekas di punggung beliau. (Ibn ‘Utsaimin, Al-Imam Az-Zahid, hal. 163)

Melawan Rasa Kantuk demi Umat

Abu Khalid Abdul Karim Al-Miqrin menceritakan:
Suatu malam saat kami sedang melakukan rekaman untuk acara radio (Nur ‘ala Darb), Asy-Syaikh Al-’Utsaimin nampak diserang rasa kantuk. Dari kejadian ini diketahui bahwa beliau adalah seorang yang sangat sabar, toleran, dan bersemangat untuk segala sesuatu yang di dalamnya terdapat manfaat untuk umat. Beliau berusaha melawan rasa kantuknya sehingga kami bisa melanjutkan proses rekaman.
Beliau meminta berhenti sebentar dan minta kabel mikrofon dipanjangkan sehingga beliau bisa menjawab pertanyaan sambil berdiri. Kami memberi beliau mikrofon kecil yang bisa ditempelkan di baju beliau dengan kabel yang lebih panjang. Beliau melanjutkan menjawab pertanyaan sambil berjalan-jalan di sekitar ruangan untuk menghilangkan rasa kantuk. Ini dilakukan beliau sampai proses rekaman selesai.
Inilah perhiasan seorang ulama sejati dan keutamaan yang mereka terapkan dalam semua urusan umat baik dalam keilmuan maupun amalan mereka. (Arba’ah ‘Ashar ‘am Ma’a Samahatil ‘Allammah Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, hal. 56)

Sumber: Untaian Mutiara Kehidupan Ulama Ahlus Sunnah, oleh Abu Abdillah Alercon, dll (www.fatwaonline.com), penerbit Qaulan Karima, hal. 101-118.





Leave a Comment