Hari Hari mu adalah Umur mu..

العلماء هم ضالتي في كل بلدة وهم بغيتي ووجدت صلاح قلبي في مجالسة العلماء // Orang-orang yang berilmu agama adalah orang yang kucari di setiap tempat. Mereka adalah tujuan yang selalu kucari. Dan aku menemukan keshalihan hatiku di dalam bergaul dengan mereka. (حلية الأولياء وطبقات الأصفياء , IV/85 )

Pertama , saya tidak akan menjelaskan panjang lebar lagi tentang istilah salafiyah maupun ahlus sunnah. Karena dua istilah ini adalah istilah yang sama, dan tidak ada perbedaan dikedua nama tersebut. Untuk mengetahui siapakah yang disebut dengan ahlus sunnah saya juga tidak akan memperpanjang lagi, karena sudah dibahas sebelumnya dan juga sudah banyak artikel yang membahasnya di buku-buku maupun di internet.

(silahkan baca Siapakah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah? : http://buletin.muslim.or.id/manhaj/siapakah-ahlus-sunnah-wal-jama%E2%80%99ah)

Maka ketahuilah bahwa didalam pernikahan seorang wanita tidak dipaksa untuk menikah dengan ikhwan yang tidak disukainya baik didalam agamanya dan yang lainnya, termasuk didalam agamanya manhajnya dan aqidahnya.

Simaklah sebuah hadist yang dijadikan dalil bahwa seorang wanita tidak dipaksa untuk menikah dengan orang yang tidak disenanginya. Dari Abu Hurairah Radiyalallahu ‘Anhu bahwasanya Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda : ” Tidak dinikahkan seorang janda sampai diminta persetujuaannya (harus ada  perkataan yang jelas –penj), tidak dinikahkan seorang perawan sampai diminta izinya, mereka (para sahabat) berkata : bagaimana izinnya bersabda Rasulullah : diamnya ” ( HR: Bukhari dan Muslim )

Berkata Syaikh Shaleh Al-Fauzan Hafidzahullah : ” Hadits ini menunjukkan bahwatidak ada paksaan bagi wanita baik itu perawan atau janda dan orang yang membedakan antara perawan dan janda bahwa mereka berkata : Perawan walinya dapat memaksanya dan janda tidak ada paksaan atasnya, pembedaan yang mereka katakan itu tidaklah benar “ ( Tashiilul Ilmaam Bifiqhil Ahaadist Min Bulugil Maram, Jilid 4 Kitab Nikah, hal 328 )

Ketika seorang pria sudah menemukan wanita yang disenanginya yang mencakup agamanya, maka pria ia disyariatkan untuk mendatangi wali (ayah) wanita ini dengan tujuan untuk meminta izin menikah dengan putrinya yang dinamakan dengan mangkhitbah (melamar). Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi was salam, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Jika datang melamar kepadamu orang yang engkau ridho agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dengannya, jika kamu tidak menerimanya, niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang luas.” (HR. Tirmidzi, hasan)

Dalam memilih wanita yang akan dijadikan istri, ada beberapa criteria yang menjadi acuan dalam memilih seorang wanita, dan yang terpenting haruslah wanita sholehah. Berdasarkan hadist Rasulullah shalallahu’alaihi was salam,

“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah.” (HR. Imam Muslim)

Dalam hadits ini terdapat keutamaan yang jelas bagi seorang wanita yang shalihah, dengan Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam menjadikannya sebagai sebaik-baiknya perhiasan di dunia. Dan Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam mengategorikan wanita shalihah sebagai kebahagiaan.

Dari Abu Hurairah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Perempuan itu dinikahi karena empat faktor, hartanya, keturunannya, cantiknya dan agamanya. Pilihlah wanita yang baik agamanya. Jika tidak maka engkau akan sengsara” [HR Bukhari].

Ibnu Hibban meriwayatkan sebagaimana dalam Al-Ihsan (9/340) dari Sa’d bin Abu Waqqash radhiyallâhu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Empat perkara yang merupakan kebahagian: seorang wanita (istri) yang shalihah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang baik, dan tunggangan (kendaraan) yang nyaman. Dan empat perkara yang merupakan kesengsaraan: seorang wanita yang jelek (agamanya), tetangga yang jelek, tunggangan yang jelek, dan tempat tinggal yang sempit.” (Hadits ini diriwayatkan pula oleh Al-Hakim)

Karena itu, seorang wanita hendaklah punya keinginan besar untuk menjadi wanita yang shalihah dan mempelajari sifat-sifatnya, sehingga dia menjadi bagian dari mereka.

Ungkapan ringkas tentang wanita shalihah adalah wanita yang berpegang teguh dengan kitab Rabbnya dan Sunnah Nabi-Nya shallallâhu ‘alaihi wa sallam di atas pemahaman Salafush Shalih (para sahabat Nabi).

Maka yang dinamakan dengan wanita sholehah adalah wanita ahlus sunnah atau wanita salafiyah. Maka sudah selayaknya seorang pria atau seorang ikhwan menjadikan akhwat ahlus sunnah sebagai istrinya.

Kenapa harus dengan akhwat ahlus sunnah ?

Maka saya mencoba memberikan gambaran dan penjelasan tentang keistimewaan atau kekhususan seorang akhwat ahlus sunnah (akhwat salafiyah) yang tidak dimiliki oleh selainnya.

Sebuah kenikmatan yang besar tatkala seorang wanita muslimah diberikan hidayah oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk mengenal dan kemudian berpegang teguh dengan aqidah serta manhaj salaf Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Agar nikmat besar yang tiada taranya ini terus langgeng, maka wajib untuk dijaga dengan mensyukurinya. Di antara bentuk syukur tersebut adalah berusaha bersikap dan berhias dengan beberapa sifat yang menjadi kekhususan wanita salafiyah, yang tidak dimiliki oleh selain mereka.

Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah telah menjelaskan beberapa sifat dan perangai wanita salafiyah tersebut, di antaranya adalah:

  1. Seorang wanita ahlus sunnah itu berpegang teguh dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam batas-batas kemampuan dia menurut pemahaman as-salafush shalih.
  2. Demikian pula hendaknya seorang wanita salafiyah itu menjaga dan mendidik anak-anaknya dengan didikan yang Islami.
  3. Untuk cirri-ciri atau keistimewaan lainnya, silahkan lihat di : http://www.mahadassalafy.net/2012/03/kekhususan-wanita-salafiyah.html

Namun , tidak menutup kemungkinan juga jika seorang ikhwan ahlus sunnah menikahi perempuan yang belum mengenal agamanya dengan benar yaitu dengan pemahaman para sahabat. Kisah semacam ini pernah ditanyakan kepada seorang ulama besar Arab Saudi , bernama Syaikh Zaid bin Muhammad Al Madkhali.

Berikut pertanyaan yang diajukan kepada syaikh :

Soal:

Apa nasehatmu untuk ikhwah ahlus sunnah (salafi), namun dia ingin menikah dengan akhwat bukan ahlus sunnah dari kalangan muslim awam?

Jawab:

Jika dia mendapatkan akhwat ahlus sunnah (salafiyah), hendaknya dia melamar akhwat tersebut. Semoga itu lebih baik dan lebih bermanfaat baginya. Ini karena aqidah dan manhaj yang benar serta berpegang teguhnya akhwat tersebut terhadap dien ini.

Namun apabila dia tidak menemukan kecuali wanita dari kalangan muslim awam, dari kalangan ahli tauhid yang menegakkan rukun iman, islam dan ihsan, maka hendaknya dia juga melamar dan menikahi wanita tersebut.

Ikhwan tersebut hendaknya mencoba meningkatkan ilmu (agama) si akhwat jika dia mampu, dan dia juga memberikan majelis taklim untuk si akhwat untuk mempelajari batasan-batasan syariat sehingga dia bisa menjadi seorang istri, penuntut ilmu, yang memiliki pemahaman agama, menjadi sosok yang memelihara rumah tangga dan amanah sehingga kebaikanlah yang diperoleh dari dirinya, dan kejelekan akan hilang.

(Diterjemahkan untuk blog http://ulamasunnah.wordpress.com dari http://zsalafi.com/v2/zsalafi.php?s_menu=16 http://zsalafi.com/v2/zsalafi.php?s_menu=23&idFatwa=1961)





Leave a Comment