Hari Hari mu adalah Umur mu..

العلماء هم ضالتي في كل بلدة وهم بغيتي ووجدت صلاح قلبي في مجالسة العلماء // Orang-orang yang berilmu agama adalah orang yang kucari di setiap tempat. Mereka adalah tujuan yang selalu kucari. Dan aku menemukan keshalihan hatiku di dalam bergaul dengan mereka. (حلية الأولياء وطبقات الأصفياء , IV/85 )

Seorang Ikhwan berkata :

Banyak dari akhwat yang kuliah atau sudah lulusan sarjana, selalu menginginkan bahwa calon suami mereka juga memiliki titel sarjana, seringkali dalam ta’aruf ditanya, pendidikannya lulusan apa dan jurusan apa. Semuanya ini membuat ikhwan merasa bahwa titel ternyata masih menjadi tolak ukur untuk menjalin jalinan pernikahan, alasan akhwat dalam menanyakan hal ini pun beragam, mulai dari gengsi, jaminan hidup lebih mapan dan memang pesanan dari orang tua agar menikah sesama sarjana. Sehingga seringkali kesholihan ikhwan menjadi ukuran yang kesekian di bawah titel keduniaan. Sedang kita mengetahui, banyak ikhwan meninggalkan bangku kuliah dan ikhtilath untuk mencari ridho Allah Ta’ala dan memilih mengaji ke ma’had-ma’had sunnah, berharap dengan demikian bisa mendapatkan bekal menjadi pemimpin yang sholih dalam rumah tangga dan mampu membimbing istrinya. Namun kenyataan di masyarakat sering berkata lain…. titel keduniaan memang masih menggiurkan bagi kalangan akhwat…

Jawaban Seorang Akhwat:

Akhi…
Jauh sebelum engkau berniat memiliki kami para akhwat
Kami hanyalah gadis-gadis mungil “sibuah hati” yang duduk manis dipangkuan orang tua kami.

Akhi…sebelum kami mencintaimu kami telah terlebih dahulu mencintai orang tua kami yang selalu ada dalam do’a-do’a kami

Akhi sebelum kami berjuang bersamamu orang tua kami telah berjuang untuk kami

Akhi sebelum kami makan dari hasil peluh keringatmu
kami telah terlebih dahulu mencicipi peluh keringat orangtua kami yang penuh kasih
Dari merekalah kami terlahir, dijaga dan di didik untuk selanjutnya menjadi bagian dari takdirmu nanti.

Akhi…
Jauh sebelum kami menisbahkan diri menjadi istri yang shalihah bagi kalian nanti
Terlebih dahulu kami selalu menyimpan harapan menjadi putri-putri yang berbakti bagi orang tua kami.
karena tak terperih perjuangan mereka untuk kami,

Akhi…
Jauh sebelum kasihmu menyentuh kami
kami telah lebih dulu dibalut kasih sayang orang tua kami yang tulus suci tanpa pernah kami memberi

Akhi…
Lalu kami bertanya kepadamu….
Andaikan engkau menjadi kami para putri
Tegakah kiranya engkau menyakiti hati mereka orang tua kami
Dengan tetap menikahi lelaki idaman hati yang tinggi ilmu agamanya serta baik budi yang selalu ada dalam mimpi-mimpi kami ,walau tanpa restu kedua orang tua kami?

Andaikan engkau menjadi orang tua kami yang begitu mencintai kami,Apakah akan sembarangan engkau tiitipkan “putrimu” pada seorang lelaki yang baru kau kenal dan kau ketahui”
walau engkau sering mendengar tentang keshalihan dan ketaatannya ?

Akhi…
Jika engkau tanya hati-hati kami,sudah barang pasti

Sejujurnya betapa ingin kami-kami ini menjadi istri dari kalian yang shalih…
Seorang lelaki yang betul-betul mewakafkan dirinya dijalan Allah yang tentu saja menjerat hati kami

Betapa ingin kami mendampingi kalian bersama-sama berjuang dijalannya

Betapa ingin kami sepenuh hati mendampingi menjadi istri-istri shalihah

Dan berharap telah ditakdirkan bagi kami

Bertugas mematuhi dan berbakti padamu “yang shalih itu” dibandingkan pada kedua orang tua kami nanti, menjaga anak-anakmu, mengurusimu, mencintaimu bahkan telah dianjurkan bagi kami mendahulukan segala kepentingan keluargamu “lelaki yang shalih itu” dibandingkan kepentingn keluarga kami nanti.

Lalu…salahkah permintaan kecil orang tua kami….
Kami tau pasti..tak ada maksud lain dihati mereka para orang tua kami selain hanya ingin melihat putri-putri mereka bahagia
Kami tahu pasti..tidak ada seorang ayahpun yang rela digantikan posisinya..
Untuk itulah mereka menetapkan “pendidikan dunia” sebagai salah satu standarnya

Akhi…
Engkau menghujat kami…
Tapi pernah kah kau tahu… TIDAK semua dari keluarga kami memiliki latar belakang agama yang kuat
Dan andai engkau mau sedikit melihat, bahwa yang sebenarnya terjadi adalah BENTUK CINTA antara kami dan orang tua-orang tua kami.
Karena cintanya,mereka ingin yang terbaik… dan karena cinta kami mematuhi

Akhi yang harus engkau tahu
bukan kami berdiam diri
dalam do’a-do’a kami selalu berharap agar hati mereka dilembutkan
Bahkan kami membantumu lewat bujukan-bujukan dan pemahaman-pemahaman kepada “mereka’ orang tua kami
Tapi yang terjadi diluar kuasa dan daya kami bila “hati” mereka tak mampu kami ketuk untuk merestui
karna cintanya mereka kepada putrinya

Dan dengan menahan hati penuh kepasrahan diri’
akhirnya kami menolak ajakanmu’ afwan… Akhi..

Masihkah engkau menghujat kami wahai Akhi
Hujatlah…

engkau mengeluh?
mengeluhlah…

Bahkan kau tak dasar
Bukan hanya engkau yang kecewa
keinginan kamipun tertahan hanya sampai ditenggorokkan tentang seseorang yang kami inginkan
Bahkan kami hanya mampu mengelus dada saat pandangan sebelah mata orang tua kami menatapmu tak terima..
Kamipun turut kecewa

Akhi…
yang harus juga engkau ketahui orang tua kami hanyalah orang tua biasa,
Andai saja..engkau memikirkannya..
Andai saja engkau mau sedikit bersabar dan berusaha

Andaikan engkau mau sedikit memperhitungkannya..
Dan andai engkau mau menunjukan serta mau meyakinkan pada mereka bahwa Engkau PANTAS menggantikannya.

Tentulah akan luluh hati mereka orang tua kami..

( Jawaban ini merupakan kisah nyata yang masuk ke inbox admin,semoga Allah memudahkan urusan saudari kita…Aamiin)





Leave a Comment