Hari Hari mu adalah Umur mu..

العلماء هم ضالتي في كل بلدة وهم بغيتي ووجدت صلاح قلبي في مجالسة العلماء // Orang-orang yang berilmu agama adalah orang yang kucari di setiap tempat. Mereka adalah tujuan yang selalu kucari. Dan aku menemukan keshalihan hatiku di dalam bergaul dengan mereka. (حلية الأولياء وطبقات الأصفياء , IV/85 )

Beriman kepada Qada dan Qadar

BY HILWA ON JULY 4, 2012

Ada pertanyaan menarik dari seorang teman saat mengikuti kuliah di Sekolah Murabbi hari Minggu kemaren tentang materi Beriman kepada Qada dan Qadar.

// Antara ilmu dan judul tidak memiliki korelasi. Bertanya masalah agama kok sama murobbi. Seharusnya bertanya masalah agama itu harus kepada para ulama atau kepada para penuntut ilmu.

Beginilah kalau ditarbiyah dengan tarbiyah ikhwanul muslimin, jauh dari tarbiyah dan ilmu dien yang shahih (benar), sehingga melahirkan generasi seperti orang-orang diatas dan yang semisalnya,  generasi yang jauh dari ilmu agama yang benar yang akhirnya berimbas pada setiap perkataan dan perbuatannya.

Berkata Syaikh Abdul Hamid Al Hajuri Hafidzahullah : ” Sebagaimana diketahui dari orang-orang yang Allah beri bashirah (ilmu) kepada kebenaran, sunnah dan jalannya salaf bahwasannya dakwah ikhwanul muslimin dibangun diatas kebodohan dari hari pertamakali dibangun ” (An Nasihat Wal Bayan Lima Alahi Hizbi Ikhwan, Syaikh Abdul Hamid Al Hajuri : 65 ) (1)

Hadirnya tulisan ini insya Allah akan membuktikan apa yang telah  saya utarakan pada pembukaan diatas dan sebuah penjelasan terhadap tulisan tersebut sebagai bentuk nasehat kepada umat. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ المُنْكَرِ وَأُوْلَئِكَ هُمُ المُفْلِحُونَ

” Dan hendaklah diantara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar dan mereka itulah orang-orang yang beruntung “ (Qs. Ali Imran : 104)

Dari Abu Ruqayah Tamiim Bin Aus Ad-Daari bahwa Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassam bersabda : ” Agama adalah nasehat ” kami (para sahabat) berkata untuk siapa wahai Rasulullah, Rasulullah berkata : untuk Allah, Rasul Nya kitabNya, para pemimpin kaum muslimin dan kaum muslimin seluruhnya “ (HR. Muslim)

Kira-kira pertanyaannya begini:
1. Ustad, bener ga sih ada istilah jodoh yang terlewatkan?
2. Ustad, boleh ga sih kita melewatkan lamaran dari seorang yang baik agamanya namun tidak sepemikiran (sefikrah) dengan kita?
Jawaban dari sang Ustad kira-kira begini:
1. Jodoh yang terlewatkan itu tidak ada. Begitu juga, tidak sengaja berjodoh itu tidak ada. Ketika seseorang berjodoh maka akan dicenderungkan hatinya dan keluarganya kepada jodohnya itu. Dibuatkan ‘jalan’nya agar ia bisa menikah dengan jodohnya itu.

// ulasan pembahasan dalam masalah ini ada pada kasus berikut :

http://www.konsultasisyariah.com/menyesal-karena-menolak-jodoh/#axzz200OI9Vi3
2. Memang dahulu Rasulullah menyebutkan bahwa untuk menikah pertimbangan kita pertama kali adalah agamanya, baru setelah itu nasabnya, hartanya, kecantikannya. Jika 4 syarat tsb tidak masalah, maka pertimbangan berikutnya adalah keharmonisan rumah tangga kelak. Jika suami istri tidak sepemikiran maka akan mendatangkan masalah kedepannya, ketika mendidik anak suami cara pandangnya A, istri cara pandangnya B, ketika bermasyarakat suami cara pandangnya A, istri cara pandangnya B, ketika berdakwah suami cara pandangnya A, istri cara pandangnya B, hal seperti ini senantiasa akan menimbulkan ‘korslet-korslet’ dalam rumah tangga, juga membingungkan penumpang bahtera (anak-anak,pen) rumahtangga. Perbedaan semacam itu biasa disebut dengan tidak sekufu. Tidak sekufu bisa dalam hal latar belakang keluarga besar yang satu miskin sekali, yang satu kaya sekali, dalam hal pendidikan yang satu tamat SD yang satu tamat S2, dll. Ketidaksekufuan ini bisa mempengaruhi keharmonisan rumahtangga. Jadi, sebaiknya kita pilih orang yang baik agamanya dan sekufu dengan kita, agar sama langkah-langkahnya dalam membangun rumahtangga yang harmonis. Kalaupun kita berani menikah dengan seseorang yang berbeda pemikiran, tentunya harus dipersiapkan usaha lebih, ‘keterampilan’ dan kesabaran untuk menjembatani pemikiran-pemikiran antara suami dan istri, agar terjaga sedemikian rupa ‘korslet-korslet’ itu tidak muncul.

// saya kira disinilah letak inti permasalahannya.

Perbedaan terbagi menjadi 2 :

  1. Perbedaan dalam masalah ushul (pokok)
  2. Perbedaan dalam masalah furuq (cabang)

Perbedaan dalam masalah ushul adalah masalah asas dan masalah prinsip. Dalam masalah inilah tidak boleh adanya perbedaan. Sedikit saja terjadi perbedaan maka akan mengakibatkan perpecahan. Maka terlebih dahulu , kita wajib mengatahui apa saja perkara-perkara yang masuk ke dalam masalah ushul dan apa saja perkara yang masuk kedalam masalah furuq. Apa saja perkara-perkara yang kita boleh bertoleransi di dalamnya dan mana saja yang tidak. Semua permasalahan ini tidaklah mungkin akan kita ketahui kecuali dengan menuntuu ilmu dan rujuk kepada kitab dan sunnah dengan pemahaman salafush shalih

Tentang perbedaan pemikiran dalam masalah agama , maka sama sekali hal ini tidak diperbolehkan. Karna Allah melarang hal itu dalam Kitabulllah dan juga Nabi kita melarangnya dalam sunnahnya.

Yang penting kita catat, bahwa AGAMA BUKANLAH PEMIKIRAN

Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Al Barbahari –rahimahullah-

“Ketahuilah saudaraku, semoga Allah merahmatimu, bahwa agama Islam itu datang dari Allah Tabaaraka Wa Ta’ala. Tidak disandarkan pada akal atau pendapat-pendapat seseorang. Janganlah engkau mengikuti sesuatu hanya karena hawa nafsumu. Sehingga akibatnya agamamu terkikis dan akhirnya keluar dari Islam. Engkau tidak memiliki hujjah. Karena Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam telah menjelaskan As Sunnah kepada ummatnya, dan juga kepada para sahabatnya. Merekalah (para sahabat) As Sawaadul A’zham. Dan As Sawaadul A’zham itu adalah al haq dan ahlul haq”

Sebelum itu, beliau juga berkata:

“Pondasi dari Al Jama’ah adalah para sahabat Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Merekalah Ahlussunnah Wal Jama’ah. Barang siapa yang cara beragamanya tidak mengambil dari mereka, akan tersesat dan berbuat bid’ah. Padahal setiap bid’ah itu kesesatan”

Beliau juga berkata:

“Umar bin Al Khattab Radhiallahu’anhu berkata: Tidak ada toleransi bagi seseorang untuk melakukan kesesatan, karena petunjuk telah cukup baginya. Tidaklah seseorang meninggalkan petunjuk agama, kecuali baginya kesesatan. Perkara-perkara agama telah dijelaskan, hujjah sudah ditetapkan, tidak ada lagi toleransi. Karena As Sunnah dan Al Jama’ah telah menetapkan hukum agama seluruhnya serta telah menjelaskannya kepada manusia. Maka bagi manusia hendaknya mengikuti petunjuk mereka”

Sumber kitab Syarhus Sunnah li Imam Al Barbahariy

Maka dari penjelasan diatas memberikan faedah kepada kita bahwa jama’ah Islam itu hanya satu dan tidak berbilang. Cara mehami agama ini hanya satu yaitu sebagaimana yang dipahami oleh pendahulu ummat ini yang shaleh.

ADAKAH NASH DARI AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH YANG MENUJUKAN KEBOLEHAN BERBILANGNYA JAMA’AH DAN PARTAI

Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Majalah As-Sunnah http://almanhaj.or.id/

بسم الله الرحمن الرحيم

Pertanyaan. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apakah ada nash-nash dalam Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya Shallallahu alaihi wa sallam yang menunjukkan kebolehan berbilangnya jama’ah-jama’ah Islamiyah ?

 

Jawaban

Tidak ada di dalam Al-Qur’an dan tidak pula dalam As-Sunnah yang membolehkan berbilangnya jama’ah-jama’ah dan partai-partai. Bahkan sesungguhnya yang ada di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah sesuatu yang mencela hal tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

”Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabnya terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat” [Al-An’am : 159]

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

”Artinya : Yaitu orang-orang yang memecah belah agamanya mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka” [Ar-Rum : 32]

Dan tidak diragukan lagi bahwa partai-partai ini menafikan apa yang diperintahkan Allah, bahkan (menyelisihi) apa yang dianjurkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firmanNya.

”Artinya : Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku” [Al-Mu’minun : 52]

Apalagi ketika kita melihat kepada akibat-akibat perpecahan dan berpartai-partai ini, setiap partai dan setiap kelompok menuduh yang lain dengan menjelek-jelekan, mencela dan menuduh fasik, dan boleh jadi akan menuduh dengan sesuatu yang lebih besar dari itu. Oleh karena itu maka saya melihat bahwa berkelompok-kleompok ini adalah suatu kesalahan.

Dan perkataan sebagian orang bahwa tidak mungkin berdakwah akan kuat dan tersebar kecuali jika berada di bawah sebuah partai ? Maka kami katakan : Perkataan ini tidaklah benar, bahkan dakwah itu akan semakin kuat dan tersebar jika seseorang semakin kuat berpegang teguh kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah, dan semakin ittiba (mengikuti) jejak-jejak Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta para Khulafa beliau yang Rasyidun.

 

[Disalin dari kitab Ash-Shahwah Al-Islamiyah Dhawabith wa Taujihat, edisi Indonesia Panduan Kebangkitan Islam, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Penerjemah Muhammad Ihsan Zainudin, Penerbit Darul Haq]

Terakhir saya nasehatkan, Sebut Saja Muslim, Bukan Salafy

Allah telah menamakan kita Muslim, lalu mengapa menisbatkan diri kepada Salaf? Keraguan ini telah dijawab dengan sangat indah oleh Imam Al-Albani dalam diskusinya dengan seseorang pada topik ini, direkam dalam kaset dengan judul “Saya Salafi” (Ana Salafi), dan berikut adalah pemaparan bagian penting dari diskusi tersebut.

 

Syaikh Al-Albani: “Jika ditanyakan kepadamu, “Apa madzhabmu?”, apa jawaban anda?

Penanya: “Saya seorang Muslim”

Syaikh Al-Albani: “Itu tidak cukup.”

Penanya: “Allah telah menamakan kita dengan sebutan Muslim“,

lalu penanya membacakan ayat Allah Subhanahu Wata’ala (yang artinya) “Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu“ (QS Al-Hajj [22] : 78)

Syaikh Al-Albani: “Ini akan merupakan jawaban yang benar jika kita berada pada masa paling awal (Islam) sebelum golongan-golongan bermunculan dan tersebar. Akan tetapi jika kita bertanya, saat ini, kepada setiap Muslim dari golongan-golongan ini yang mana kita berbeda dengannya dalam hal akidah, jawabannya tidak akan berbeda dari kata ini (muslim- pent). Semuanya, Syiah Rafidhah, Khawarij, Nusayri Alwi – akan berkata, “Saya seorang Muslim.” Karenanya hal itu tidak lagi cukup untuk masa sekarang ini.”

Penanya: “Jika demikian saya akan menjawab, ‘Saya seorang Muslim yang mengikuti Qur’an dan Sunnah‘”

Syaikh Al Albani: “Ini pun tidak cukup.”

Penanya: “Mengapa?”

Syaikh Al Albani: “Apakah anda menemukan siapa saja diantara contoh yang telah kita sebutkan tadi berkata “Saya seorang Muslim yang tidak berpegang kepada Al-Qur’an dan Sunnah?” Siapa diantara mereka yang berkata, “Saya tidak berpegang kepada Al-Qur’an dan Sunnah?”

Pada point ini, Syaikh mulai menjelaskan secara rinci mengenai pentingnya berpegang terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah menurut pemahaman para salafush-shalih.

Penanya: “Jika demikian Saya adalah seorang Muslim yang mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah menurut pemahaman Salafush-Shalih”

Syaikh Al Albani: “Jika seseorang bertanya kepada anda, apa madzhabmu, apakah ini yang akan anda katakan kepadanya?”

Penanya: “Ya.”

Syaikh Al Albani: “Bagaimana pendapat anda jika kita menyingkat kalimat itu, karena kata-kata yang terbaik adalah kata-kata yang sedikit tetapi menggambarkan tujuan yang diinginkan, ‘Salafi?’

Artikel ini dari http://www.khayla.net/2007/12/jawaban-atas-kesalahpamahan-terhadap.html

 

 





Leave a Comment