Hari Hari mu adalah Umur mu..

العلماء هم ضالتي في كل بلدة وهم بغيتي ووجدت صلاح قلبي في مجالسة العلماء // Orang-orang yang berilmu agama adalah orang yang kucari di setiap tempat. Mereka adalah tujuan yang selalu kucari. Dan aku menemukan keshalihan hatiku di dalam bergaul dengan mereka. (حلية الأولياء وطبقات الأصفياء , IV/85 )

Mengapa kita belum juga menikah? (bagian 1: ikhwan)

Menikah adalah sunnah Rasulullah saw dan bagi yang belum menikah tentu ingin menyegerakannya. Namun kadang kala realita “agak” berbeda dengan keinginan (rencana). Ada berbagai alasan dan hal yang menjadi sebab mengapa seseorang belum juga menikah. Dan dengan mengetahui hal-hal yang menyebabkan seseorang belum menikah diharapkan lebih bisa menemukan solusi yang tepat dalam mengatasi hambatan pernikahan, atau meminimalkan hambatan itu.

Ikhwan dan akhwat punya alasan masing2 kenapa mereka belum juga menikah. Pada bagian pertama ini saya membahas dunia ikhwan dulu, baik itu melalui pengalaman2 para ikhwan ataupun melalui ilmu yang saya dapatkan.

Beberapa alasan ikhwan belum menikah antara lain:

1. Masih punya tanggung jawab keluarga

Ada beberapa ikhwan yang menjadi tulang punggung keluarga mereka. Mereka punya orang tua yang bisa jadi sudah terlalu tua untuk bekerja menghidupi anak2nya. Maka sebagai anak tertua dia ikut bertanggung jawab terhadap adik2nya. Ini banyak kasusnya dan sering saya temui. Dengan masih adanya tanggung jawab terhadap keluarga, maka ikhwan tersebut merasa belum waktunya untuk memikirkan pernikahan.

2. Merasa belum mapan

Ini adalah alasan klasik dan banyak ditemui, yaitu masalah maisah. Merasa belum mampu memenuhi kebutuhan adalah hak yang wajar dihadapi dalam menuju pernikahan. Sebetulnya ini bukan hal yang menjadi kendala yang besar, karena saya mengamati banyak akhwat yang mau menikah dengan kondisi sederhana dan mau ikut berjuang membantu suaminya bila nanti sudah menikah. Walaupun ada juga akhwat yang memperhitungkan hal ini. Dan biasanya yang menjadi kendala dalam masalah maisah adalah tentang ijin mertua. Tentunya orang tua akhwat tidak begitu mudahnya melepaskan anak gadisnya pada sembarang laki2. Mereka harus memastikan bahwa laki2 yg akan menikahi anaknya itu mampu bertanggungjawab dan menghidupi.

3. Merasa punya kekurangan dan kurang pede.

Banyak orang yang minder dengan dirinya. Dia merasa punya kekurangan dan merasa tidak pantas menikahi si “A”. Perasaan takut ditolak, selalu menghantui sebelum melangkah. Bisa jadi ketakutan itu benar, tapi tentunya harus dipahami bahwa akhwat juga manusia. Kalaupun memang ikhwan merasa punya kekurangan, tentunya beberapa akhwat juga merasa demikian. Misal, ada ikhwan yang minder karena hanya lulusan SMP dan merasa tidak pantas melamar akhwat yang S1. Kalau memang demikian, kenapa tidak mencari saja akhwat yang juga lulusan SMP biar tidak merasa kurang?. Maka biasanya jodoh itu sekufu/sederajat/seimbang.

4. Selalu kurang sreg dengan akhwat yang ditawarkan

Ada juga tipe ikhwan perfect (dia merasa punya kelebihan, padahal belum tentu), yang ingin mencari akhwat yang perfect juga dan punya segudang kriteria tentang calon istrinya nanti. Sehingga banyak akhwat yang hadir dalam kehidupannya belum juga dia ajak taaruf hanya karena dia merasa akhwat itu belum memenuhi kriterianya. Sehingga lama2 usia semakin tua dan belum juga menikah. Sebetulnya, kita boleh2 saja mematok kriteria, tapi bukan hal yang bijak apabila terlalu kaku agar semua kriteria itu terpenuhi. Karena sulit menemukan manusia yang perfect, bahkan bisa jadi tidak ada. Kalaupun ada, belum tentu juga dia mau sama kita. Nah….

5. Trauma dengan kegagalan masa lalu

Ada juga ikhwan2 yg terlalu perasa, sehingga terlalu trauma dengan kegagalan proses nikah yang dulu pernah dijalaninya. Bisa jadi kegagalan itu tidak hanya sekali, jadi terlalu membekas dalam hatinya dan takut di kemudian hari akan gagal lagi, lalu takut mencoba lagi. Apalagi ditambah dengan sifat ikhwan yang introvert, wah susah deh diajak kompromi.

6. Kurang iman

Ini adalah penyebab internal yaitu penyakit hati. Kata Rasul, bisa laki2 sudah saatnya menikah tapi belum juga menikah bisa jadi ada 2 penyebabnya, yaitu banyak maksiat atau kurang jantan. Nah….

7. Masih konsen amanah2 lain

Banyak ikhwan yg punya segudang agenda dan amanah sehingga belum sempat memikirkan pernikahan. Padahal bisa jadi dengan pernikahan amanah2 yang diembannya akan lebih mudah dijalani.

Wallahu a’lam bishowwab.

 

Mengapa kita belum juga menikah? (bagian 2: akhwat)

Setelah tulisan sebelumnya membahas alasan ikhwan belum menikah, sekarang giliran akhwat.

Menurut saya, pada intinya belum menikah berarti belum ketemu dengan jodohnya, dan jodoh itu ada di tangan Allah. Karena tidak ada usaha yang menjadi patokan baku bagi kita untuk menuju ke pernikahan. Maksudnya, semua orang itu punya jalan masing-masing, yang kadang terduga namun seringkali pula tak terduga. Bisa jadi murobi menjadi tempat untuk membantu urusan ini, namun tidak semua bisa menerima, jadi kembali ke pribadi masing-masing. Wallahu a’lam.

Untuk akhwat saya mengamati ada beberapa hal yang menjadi alasan belum menikah. Bisa jadi sebagian alasan sama dengan ikhwan, tapi ada juga yang berbeda. Dan mohon dikoreksi apabila ada kesalahan saya dalam mengungkapkan hal ini. Alasan2 akhwat belum menikah antara lain:

1. masih konsen kuliah

Sekarang banyak kajian2 pernikahan di kampus. Buku-buku juga banyak membahas itu. Sebagian ikhwah terpengaruh untuk menyegerakan menikah saat kuliah dengan berbagai alasan kebaikan dan ibadah. Namun banyak juga yang masih berpikir tentang amanah ke depan. Khususnya akhwat (tentunya tidak semua), mereka merasa belum mampu menerima amanah kehidupan rumah tangga, sementara amanah kuliah masih di depan mata. Bisa jadi sebagian yang akhirnya menikah bisa me-manage hal itu, tapi ada juga yang masih ragu apakah nantinya bisa menjalankan semua amanah itu dengan baik. Iya kalau kuliah semakin baik, kalau semakin amburadul khan bisa berabe. Kita lihat sekarang amanah kuliah tidak ringan. Belajar, ujian, praktikum, tugas, dll. Belum kalau Allah memberi amanah seorang anak, pikiran bisa bercabang. Belum lagi kalau di akhwat itu banyak juga amanah organisasi, menjadi korlap di sana sini, hehe…. Tapi bukan berarti saya menakut2i para akhwat yang mau menikah saat kuliah, karena kalau yakin dan istikharah mantep ya jalani saja. Tapi kenyataan di lapangan membuktikan bahwa banyak akhwat yang menolak ikhwan yang mengajak menikah dengan alasan masih konsen kuliah. Wallahu a’lam, mohon dikoreksi kalau salah.

2. Belum ada yang melamar

Sejak dulu memang menjadi budaya bahwa akhwat biasanya pasif dalam hal jodoh. Mereka hanya menunggu seseorang yang nantinya datang mengajaknya menikah. Walaupun dalam hati memendam “rasa” pada seseorang, namun tidak semata-mata perasaan atau keinginan menikah itu langsung diungkapkan karena ada kendala etik untuk hal itu. Yah, mungkin berdoa menjadi jalan agar ikhwan “idaman” dibukakan hatinya untuk melamarnya, hehe… Tapi tidak sedikit juga akhwat yang terbuka banyak jalan menuju pernikahan, antara lain dengan bantuan saudara atau guru ngaji.

3. Trauma masa lalu

(pembahasan sama dengan bagian ikhwan)

4. Orang tua menjadi penghalang

Ini menjadi kendala agak rumit juga. Bisa jadi si akhwat tidak terlalu mempermasalahkan si ikhwan, tapi orang tua yang justru belum menyetujui. Tentunya dengan berbagai alasan yang orang tua anggap untuk kebaikan bagi anaknya. Bisa jadi alasan orang tua itu banyak benarnya, tapi sebagian terjadi karena pamahaman agama yang kurang, atau ketakutan berlebihan pada pernikahan nantinya. Banyak orang tua yang terlalu protektif ke anak gadisnya terutama dalam urusan jodohnya. Banyak lamaran berdatangan tapi gugur karena orang tua tidak menyetujuinya. Yah, semua kembali ke masalahnya. Kalau memang masih bisa diperjuangkan dan alasan orang tua (mertua) menolak kurang syar’i, ada baiknya perlu diperjuangkan, karena ibadah memang seringkali butuh pengorbanan dan perjuangan. Bisa jadi perjuangan dalam mewujudkan pernikahan islami akan menambah rasa cinta kasih pasangan apabila nanti sudah menikah. Wallahu a’lam.

5. Kakak belum menikah

Melangkahi kakak menikah sebetulnya tidak dilarang dalam Islam. Asalkan yang menjalani dan semua anggota keluarga rela insyaAllah gpp. Tapi kadangkala ada perasaan kurang enak bila adik mau menikah duluan, sementara kakaknya belum ktemu jodohnya. Dan untuk solusinya semua bisa dimusyawarahkan mana yang terbaik.

6. Ada kendala pribadi

Kendala pribadi itu misal terkena penyakit khronis, atau cacat. Tapi itu tidak boleh dijadikan alasan jauh dari jodoh. Karena, kalau Allah sudah berkehendak mendekatkan dengan jodoh, tidak ada yang sulit bagi Allah.

7. Ikhwan yang datang belum ada yang “sreg” di hati

Memang benar akhwat itu menunggu atau pasif, tapi mereka punya hak untuk menolak. Dan bisa ikhwan yang datang kurang sreg di hati, mereka berhak menolak. Boleh menolak tanpa alasan dan boleh dengan alasan. Namun, jangan mematok harga terlalu tinggi. Kalau memang sudah saatnya, dan ikhwan yang melamar sudah “layak” kenapa selalu menolak? Tapi ya semua kembali ke pribadi masing2. Manusia punya hak, hak memilih…..hak menolak….

8. Mengejar karir

Selain ada istilah wanita karir, ada juga istilah akhwat karir, hehe…. Namun saya berpositif thinking. BIsa jadi seorang akhwat masih konsen mengejar karir karena memang masih ada amanah di keluarganya (orang tua dan adik), sehingga belum sempat memikirkan pernikahan. Karena kalau sudah menikah, seorang istri menjadi hak suami untuk mengatur, termasuk dalam hal mengunjungi dan memikirkan orang tuanya. Makanya, mumpung belum menikah, akhwat bisa dipuas2kan memikirkan keluarganya. Tapi sebetulnya kalau memang sudah bersuami tidak ada halangan untuk itu. Suami yang baik pasti memahami hal itu, karena mertua dan orang tua sendiri itu sebetulnya sama saja, kita dituntut berbakti baik ke mertua maupun orang tua sendiri. Wallahu a’lam.





Leave a Comment